<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Peranakan Archives - The Societies</title>
	<atom:link href="https://thesocieties.id/tag/peranakan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://thesocieties.id/tag/peranakan/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Mar 2026 18:50:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2025/04/cropped-the_s_ico-1-32x32.jpg</url>
	<title>Peranakan Archives - The Societies</title>
	<link>https://thesocieties.id/tag/peranakan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>House of Tugu Jakarta Hadirkan &#8220;Cap Go Meh Gala Feast&#8221;</title>
		<link>https://thesocieties.id/house-of-tugu-jakarta-hadirkan-cap-go-meh-gala-feast/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[The Societies Team]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2026 18:50:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Travel & Retreat]]></category>
		<category><![CDATA[#jointhesocieties]]></category>
		<category><![CDATA[#thesocieties]]></category>
		<category><![CDATA[CapGoMeh]]></category>
		<category><![CDATA[CapGoMehFeast]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[diningplaces]]></category>
		<category><![CDATA[hotel]]></category>
		<category><![CDATA[HouseofTuguJakarta]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Peranakan]]></category>
		<category><![CDATA[Tugu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesocieties.id/?p=4143</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cap Go Meh bukan sekadar penutup rangkaian Tahun Baru Imlek &#8211; tradisi ini merupakan monumen hidup dari sejarah panjang akulturasi budaya di <a href="https://thesocieties.id/house-of-tugu-jakarta-hadirkan-cap-go-meh-gala-feast/" class="read-more-link">[read more...]</a></p>
<p>The post <a href="https://thesocieties.id/house-of-tugu-jakarta-hadirkan-cap-go-meh-gala-feast/">House of Tugu Jakarta Hadirkan &#8220;Cap Go Meh Gala Feast&#8221;</a> appeared first on <a href="https://thesocieties.id">The Societies</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cap Go Meh</strong> bukan sekadar penutup rangkaian Tahun Baru Imlek &#8211; tradisi ini merupakan monumen hidup dari sejarah panjang akulturasi budaya di Indonesia. Berakar dari <strong>pertemuan tradisi Tionghoa dan Nusantara sejak era Batavia</strong>, warisan ini terus dirawat sebagai identitas kuliner yang kaya makna.</p>
<p>Memperingati hal tersebut, <strong>House of Tugu Jakarta</strong> merayakan sejarah tersebut melalui program<em><strong> &#8220;Cap Go Meh Gala Feast&#8221;</strong></em> sepanjang <strong>bulan Maret 2026</strong>. Acara istimewa ini diselenggarakan di <strong>Babah Koffie by Kawisari</strong> &#8211; sebuah ruang yang dirancang khusus untuk menjadi penjaga narasi kuliner Peranakan di kawasan Kota Tua Jakarta.</p>
<p>Bukan hanya menyajikan estetika visual, Babah Koffie by Kawisari turut menjadi wadah pelestarian budaya. Interior yang dipenuhi artefak otentik serta <strong>atmosfer khas Jawa-Tionghoa</strong> menciptakan latar yang sempurna untuk merayakan Cap Go Meh. Sebagai pelengkap, setiap cangkir kopi yang dihidangkan berasal dari Perkebunan Kawisari milik Tugu di Jawa Timur. Berdiri sejak <strong>tahun 1870</strong>, perkebunan ini menjadi benang merah sejarah yang menghubungkan tradisi agraris kolonial dengan gaya hidup modern saat ini.</p>
<figure id="attachment_4145" aria-describedby="caption-attachment-4145" style="width: 699px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-4145" src="https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2026/03/Babah-Koffie-by-Kawisari-1-1.jpg" alt="" width="699" height="932" srcset="https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2026/03/Babah-Koffie-by-Kawisari-1-1.jpg 699w, https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2026/03/Babah-Koffie-by-Kawisari-1-1-225x300.jpg 225w" sizes="(max-width: 699px) 100vw, 699px" /><figcaption id="caption-attachment-4145" class="wp-caption-text">Courtesy of House of Tugu Jakarta</figcaption></figure>
<p>Seluruh sajian dalam perjamuan ini dirancang sebagai kolaborasi antara <strong>Jajaghu</strong> dan <strong>Babah Koffie</strong>, menempatkan simbolisme budaya setara dengan kualitas rasa. Hidangan pembuka berupa <strong>kantong kulit tahu renyah yang berisi udang segar dan <em>water chestnut</em></strong>. Disajikan dengan efek asap yang estetik, bentuknya menyerupai pundi uang—sebuah simbol harapan agar rezeki dan keberuntungan terus mengalir di sepanjang tahun.</p>
<p>Bintang utama dari perayaan ini adalah sajian akulturasi yang tidak ditemukan dalam tradisi Tiongkok maupun Jawa klasik. <strong>Lontong daun bambu disajikan dengan ayam opor resep pusaka &#8220;Mpok&#8221; yang diwariskan secara lisan</strong>, yang dilengkapi dengan <strong>lodeh labu siam</strong>, <strong>udang segar</strong>, <strong>telur hitam</strong>, <strong>sate ayam</strong>, hingga <strong>koya kedelai putih</strong>. Sebuah harmoni rasa yang merepresentasikan keberagaman yang menyatu.</p>
<p>Sebagai penutup, <strong>bola-bola ketan berwarna merah, putih, dan hijau disajikan dalam kuah jahe yang hangat</strong>. Tiga warna ini melambangkan harmoni dalam perbedaan yang hidup berdampingan, menutup perjamuan dengan kehangatan dan doa akan kerukunan.</p>
<figure id="attachment_4146" aria-describedby="caption-attachment-4146" style="width: 542px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-4146" src="https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2026/03/Ronde-Tiga-Warna-1-1.jpg" alt="" width="542" height="722" srcset="https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2026/03/Ronde-Tiga-Warna-1-1.jpg 542w, https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2026/03/Ronde-Tiga-Warna-1-1-225x300.jpg 225w" sizes="(max-width: 542px) 100vw, 542px" /><figcaption id="caption-attachment-4146" class="wp-caption-text">Courtesy of House of Tugu Jakarta</figcaption></figure>
<p>Manajemen House of Tugu Jakarta menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari misi besar mereka untuk menghidupkan kembali konteks sejarah melalui pengalaman kuliner. “Cap Go Meh Gala Feast kami hadirkan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan Peranakan dan sejarah Kota Tua Jakarta. Kami ingin menghidupkan kembali tradisi dalam ruang yang autentik dan relevan dengan masa kini,” ujar <strong>perwakilan manajemen House of Tugu Jakarta</strong>.</p>
<p>Program &#8220;Cap Go Meh Gala Feast&#8221; tersedia mulai dari tanggal <strong>3 hingga 31 Maret 2026</strong>.</p>
<p>The post <a href="https://thesocieties.id/house-of-tugu-jakarta-hadirkan-cap-go-meh-gala-feast/">House of Tugu Jakarta Hadirkan &#8220;Cap Go Meh Gala Feast&#8221;</a> appeared first on <a href="https://thesocieties.id">The Societies</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lemari: Jajanan Pasar Peranakan Penuh Tradisi dari Meradelima</title>
		<link>https://thesocieties.id/lemari-jajanan-pasar-peranakan-penuh-tradisi-dari-meradelima/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[The Societies Team]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2025 18:14:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dining Places]]></category>
		<category><![CDATA[#jointhesocieties]]></category>
		<category><![CDATA[#thesocieties]]></category>
		<category><![CDATA[celebrity]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[diningplaces]]></category>
		<category><![CDATA[entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[event]]></category>
		<category><![CDATA[GheaFashionStudio]]></category>
		<category><![CDATA[harikebayanasional]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[JajanPasar]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Lemari]]></category>
		<category><![CDATA[lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Meradelima]]></category>
		<category><![CDATA[Peranakan]]></category>
		<category><![CDATA[PeranakanSoiree]]></category>
		<category><![CDATA[restaurant]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://thesocieties.id/?p=2930</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kuliner Peranakan menjadi salah satu bagian penting dalam khazanah dunia kuliner tanah air. Masakan Peranakan sendiri merupakan jenis masakan yang lahir dari <a href="https://thesocieties.id/lemari-jajanan-pasar-peranakan-penuh-tradisi-dari-meradelima/" class="read-more-link">[read more...]</a></p>
<p>The post <a href="https://thesocieties.id/lemari-jajanan-pasar-peranakan-penuh-tradisi-dari-meradelima/">Lemari: Jajanan Pasar Peranakan Penuh Tradisi dari Meradelima</a> appeared first on <a href="https://thesocieties.id">The Societies</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kuliner Peranakan</strong> menjadi salah satu bagian penting dalam khazanah dunia kuliner tanah air. Masakan Peranakan sendiri merupakan jenis masakan yang lahir dari perpaduan dua kebudayaan utama: Tionghoa (khususnya Tionghoa perantauan, atau Baba-Nyonya) dengan Melayu atau lokal Nusantara.</p>
<p>Istilah &#8220;Peranakan&#8221; sendiri merujuk pada keturunan imigran Tionghoa yang lahir dan berasimilasi dengan budaya setempat di wilayah Asia Tenggara, khususnya di Selat Malaka (Malaysia, Singapura) dan Indonesia. Penuh dengan tradisi, salah satu restoran peranakan yang selalu mengangkat nilai sejarah di setiap hidangannya adalah <strong>Meradelima</strong> dan tentunya figur penting di baliknya, <strong>Lily Admodirdjo</strong>.</p>
<figure id="attachment_2932" aria-describedby="caption-attachment-2932" style="width: 750px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-2932" src="https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2025/07/5660463C-3EFF-4869-A9CE-BBE2B427B6E4-1.jpg" alt="" width="750" height="422" srcset="https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2025/07/5660463C-3EFF-4869-A9CE-BBE2B427B6E4-1.jpg 750w, https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2025/07/5660463C-3EFF-4869-A9CE-BBE2B427B6E4-1-300x169.jpg 300w" sizes="(max-width: 750px) 100vw, 750px" /><figcaption id="caption-attachment-2932" class="wp-caption-text">Courtesy of Meradelima</figcaption></figure>
<p>Sebagai pionir gastronomi lokal, Lily Admodirdjo dikenal bukan hanya sebagai restaurateur, melainkan penjaga memori rasa yang menciptakan hidangan berkonteks sejarah, filosofis, dan identitas budaya. Saat ini, kepemimpinan Meradelima dilanjutkan oleh generasi kedua, dengan <strong>Faizal Admodirdjo sebagai Chief Executive Officer</strong> dan <strong>Carmelita Febiola M. Admodirdjo sebagai Chairman of the Board</strong>.</p>
<p>Setelah sukses membawa cita rasa Peranakan ke ranah<em> fine dining</em>, Meradelima kini memperkenalkan <strong>Lemari Jajanan Pasar Peranakan Meradelima</strong>. Peluncuran ini adalah bagian dari misi jangka panjang untuk melestarikan tradisi agar tak terlupakan. Melalui beragam varian kue basah seperti <strong>Klepon, Talam, Kue Ku</strong>, dan <strong>Putri Mandi</strong>—yang disajikan dengan resep keluarga berpadu sentuhan modern—tersimpan cerita lintas generasi yang ingin terus diwariskan.</p>
<figure id="attachment_2935" aria-describedby="caption-attachment-2935" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-2935" src="https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2025/07/Copy-of-Untitled-Design-1-1-1.jpg" alt="" width="681" height="405" srcset="https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2025/07/Copy-of-Untitled-Design-1-1-1.jpg 681w, https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2025/07/Copy-of-Untitled-Design-1-1-1-300x178.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-2935" class="wp-caption-text">Courtesy of Meradelima</figcaption></figure>
<p>“Jika tradisi ini tidak terus diperkenalkan, lama-kelamaan akan hilang. Kami ingin jajanan pasar tetap hadir dan dikenal. Bukan hanya sebagai memori masa lalu, tapi sebagai bagian dari masa depan,” ujar <strong>Carmelita Febiola M. Admodirdjo</strong>. Seiring peluncuran Lemari Jajanan Pasar Peranakan, Meradelima turut memperkenalkan konsep <em><strong>Afternoon High Tea</strong></em> <strong>ala Peranakan</strong>, menyajikan jajanan pasar dengan format lebih tertata namun tetap otentik cita rasanya.</p>
<p>Seluruh kudapan tradisional ini disuguhkan dalam<em> tableware</em> khas Peranakan, dihadirkan setara dengan camilan modern dalam sebuah pengalaman bersantap yang elegan namun tetap bersahaja. Diproduksi <strong>tanpa pewarna buatan</strong> dan <strong>mengandalkan bahan alami </strong>seperti <strong>bunga telang, buah naga</strong>, serta <strong>daun suji</strong> dengan standar higienitas tinggi, penganan ini tidak hanya memanjakan penikmat kuliner, tetapi juga para pecinta budaya yang menghargai keaslian dan nilai.</p>
<figure id="attachment_2934" aria-describedby="caption-attachment-2934" style="width: 750px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-2934" src="https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2025/07/613297C8-CAAC-4917-AFA3-C8FC77141D12-1.jpg" alt="" width="750" height="422" srcset="https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2025/07/613297C8-CAAC-4917-AFA3-C8FC77141D12-1.jpg 750w, https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2025/07/613297C8-CAAC-4917-AFA3-C8FC77141D12-1-300x169.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 750px) 100vw, 750px" /><figcaption id="caption-attachment-2934" class="wp-caption-text">Courtesy of Meradelima</figcaption></figure>
<p>Bertepatan dengan <strong>Hari Kebaya Nasional</strong>, peluncuran Lemari Jajanan Pasar Peranakan Meradelima dimeriahkan dengan<strong> &#8220;Peranakan Soirée&#8221;</strong>, sebuah perayaan budaya lintas generasi yang berkolaborasi dengan <strong>Ghea Fashion Studio</strong>. Sebagai salah satu rumah mode tertua di Indonesia yang kini berusia 45 tahun, Ghea menampilkan koleksi kebaya kontemporer bersama <em>second line</em>-nya, <strong>Ghea Resort by Amanda &amp; Janna</strong>, keduanya terinspirasi oleh kekayaan budaya Peranakan.</p>
<p>Tidak hanya melestarikan budaya peranakan melalui kuliner, Lemari Jajanan Pasar Peranakan Meradelima dirancang sebagai titik temu generasi baru— khususnya bagi mereka yang lebih akrab dengan cita rasa global—dengan kekayaan kuliner Nusantara yang disajikan secara kontemporer.</p>
<figure id="attachment_2936" aria-describedby="caption-attachment-2936" style="width: 750px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-2936" src="https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2025/07/526B2534-85FA-4F92-BA20-826F8E506C0B-1-1.jpg" alt="" width="750" height="422" srcset="https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2025/07/526B2534-85FA-4F92-BA20-826F8E506C0B-1-1.jpg 750w, https://thesocieties.id/wp-content/uploads/2025/07/526B2534-85FA-4F92-BA20-826F8E506C0B-1-1-300x169.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 750px) 100vw, 750px" /><figcaption id="caption-attachment-2936" class="wp-caption-text">Courtesy of Meradelima</figcaption></figure>
<p>“Sebagai generasi penerus, tanggung jawab kami adalah memastikan tradisi tidak berhenti di generasi sebelumnya,” ujar <strong>Faizal Admodirdjo, CEO Meradelima</strong>. “Kami ingin membangun ekositem di mana kuliner Nusantara terus bertumbuh, beradaptasi, dan dihargai lintas generasi&#8221;.</p>
<p>The post <a href="https://thesocieties.id/lemari-jajanan-pasar-peranakan-penuh-tradisi-dari-meradelima/">Lemari: Jajanan Pasar Peranakan Penuh Tradisi dari Meradelima</a> appeared first on <a href="https://thesocieties.id">The Societies</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
