Posted in

Persahabatan dan Budaya Fandom di “Night Shift for Cuties”

Netflix Indonesia sukses meluncurkan serial orisinal terbarunya yang penuh warna – “Night Shift for Cuties”. Mengusung genre drama persahabatan yang youthful, serial berjumlah delapan episode ini menyoroti lika-liku kehidupan dua sahabat – Muti (Shenina Cinnamon) dan Jenar (Nadya Syarifa). Keduanya dipertemukan sebagai pekerja paruh waktu di sebuah minimarket Korea dan dipersatukan oleh obsesi yang sama terhadap girl group fiktif bernama Purple Tea. Selain kegemaran pada kelompok musik tersebut, kisah serial ini berfokus pada perjuangan keras keduanya untuk bertemu sang idola di tengah keterbatasan ekonomi dan peliknya dinamika kehidupan.

Dalam konferensi pers global yang diadakan di Live House, M Bloc pada Kamis (4/6), tim produksi serta jajaran pemeran utama membagikan visi kreatif dan cerita di balik layar dari serial yang diproduksi oleh Soda Machine Films ini.

Courtesy of Netflix
Courtesy of Netflix


Sutradara Monica Vanesa (Mica) Tedja mengungkapkan bahwa gagasan awal serial ini berangkat dari pengamatan personal terhadap sahabatnya sendiri yang merupakan seorang penggemar K-Pop. Mica terkesan melihat bagaimana hobi tersebut membawa transformasi positif, membuat hidup sang sahabat lebih berwarna, berbinar, dan percaya diri.

“Melalui serial ini, kami mencoba menangkap cerita persahabatan perempuan yang bisa terlihat rumit dan seperti rollercoaster dengan pertengkaran dan cekcok, tetapi di balik itu semua ada cinta dan rasa peduli yang mendalam. Kami ingin membahas apa yang ada di balik passion dan obsesi para penggemar ini,” ujar Mica.

Courtesy of Netflix

Menambahkan dari sudut pandang penceritaan, Penulis Naskah Aline Djayasukmana menjelaskan keputusan kreatif tim untuk menghadirkan figur girl group dalam narasi. Pihaknya sengaja mendobrak pakem konvensional industri hiburan demi memberikan pesan pemberdayaan perempuan yang lebih kuat.

“Dunia K-Pop ini sangat magnetis, dan girl group adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kami. Perempuan menghadapi banyak sekali tantangan. Untuk itu, kami mencoba mendobrak batasan dengan mengajukan gagasan: bagaimana kalau pentolan (leader) dari grup idola ini adalah seseorang yang plus size? Sesuai dengan realitas yang tidak konvensional di industri saat ini,” terang Aline.

Bagi aktris Shenina Cinnamon, peran sebagai Muti memberikan tantangan baru yang belum pernah ia eksekusi sebelumnya, terutama karena karakter ini merepresentasikan realitas generasi masa kini yang terjebak dalam tuntutan ekonomi keluarga.

Courtesy of Netflix

“Saya belum pernah memerankan seorang fangirl yang habis-habisan seperti di sini. Di balik itu, Muti adalah karakter yang membanting tulang karena ia termasuk dalam sandwich generation. Ia harus menghidupi ibu dan adiknya setelah ditinggal sang ayah. Bagi Muti, Purple Tea adalah pemantik semangat hidup dan satu-satunya motivasi kala orang-orang di sekitarnya tidak melakukan itu. Sangat seru menggambarkan karakter usia 20-an yang terjepit, terkadang mengambil keputusan impulsif, tetapi tidak pernah pantang menyerah demi menggapai mimpinya,” ungkap Shenina.

Di sisi lain, Nadya Syarifa (yang juga dikenal sebagai penyanyi SailorMoney) langsung merasa terpikat sejak membaca proposal awal serial ini yang menggunakan referensi grup musik global seperti XG dan NewJeans. Nadya mengaku memiliki banyak kemiripan personal dengan karakter Jenar yang ia mainkan.

“Karakter Jenar berumur 20 tahun dan saya melihat ada banyak sisi diri saya di dalamnya, mulai dari momen dihakimi oleh lingkungan sekitar hingga keluarga. Melalui karakter ini, kita bisa melihat bagaimana seorang anak muda ‘meminjam’ kepercayaan diri dari idola mereka agar bisa berani menjalani hidup,” kata Nadya.

Courtesy of Netflix

Selain kekuatan narasi, Night Shift for Cuties juga menjanjikan kualitas audio visual yang matang, khususnya dalam pembentukan identitas girl group Purple Tea. Produser Kevin Ryan Himawan mengakui bahwa proses pembuatan lagu dan koreografi orisinal menjadi salah satu tantangan paling menyenangkan bagi tim produksi.

“Membuat serial ini menjadi perjalanan kolaboratif yang sangat seru. Untuk lagu dan lirik Purple Tea, kami bekerja sama dengan musisi Kenny Gabriel dan Monica Eva Sancti (Moneva). Kami banyak belajar hal baru demi menyajikan sebuah pengalaman musikal yang autentik,” jelas Kevin.

Diproduseri oleh Lucky Kuswandi dan Kevin Ryan Himawan, Night Shift for Cuties diposisikan oleh sang sutradara sebagai sebuah “surat cinta” bagi para penggemar K-Pop di seluruh dunia yang turut mengupas beragam isu sensitif mulai dari kepercayaan diri, tekanan tumbuh dewasa (quarter-life crisis), hingga kehangatan keluarga.