Pramoedya Ananta Toer dikenal sebagai salah satu sastrawan terbesar tanah air yang menerbitkan karya-karyanya yang tajam, kritis, dan sarat akan sejarah bangsa. Menghasilkan lebih dari 50 karya yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa, karya beliau yang paling monumental adalah “Tetralogi Pulau Buru” yang terdiri dari “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah” dan “Rumah Kaca”.
Merayakan selebrasi 100 tahun Pramoedya Ananta Toer, kisah “Bumi Manusia” dan “Anak Semua Bangsa” dihidupkan melalui pementasan teater “Bunga Penutup Abad”. Setelah sukses pada perhelatannya di tahun 2016-2018, pementasan ini akan kembali diselenggarakan pada 29, 30, dan 31 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, Jakarta, sebagai hasil kolaborasi Titimangsa dan Bakti Budaya Djarum Foundation.

“Pentas Bunga Penutup Abad ini kembali hadir karena kerinduan para penikmat teater dan penggemar Pramoedya Ananta Toer. Kisah Nyai Ontosoroh, Minke, dan Annelies sangat berbekas di hati. Bagi kami, karya-karya Pram memiliki semangat dan nilai-nilai yang masih sangat relevan dengan kondisi bangsa kita saat ini. Mengangkatnya kembali ke panggung adalah cara kami merayakan dan mengingatkan kita semua untuk semakin mencintai bangsa ini,” ujar Happy Salma sebagai Produser “Bunga Penutup Abad”.
Menjadi pementasan produksi ke-88 dari Titimangsa, “Bunga Penutup Abad” merupakan bagian dari rangkaian dari program satu tahun peringatan “Seabad Pram” yang diprakarsai oleh Pramoedya Ananta Toer Foundation. Hal ini berkaitan dengan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer di tahun 2025 yang menjadi momen istimewa sekaligus momentum refleksi serta perayaan atas kontribusi sang sastrawan bagi perkembangan sastra, sejarah, pemikiran, dan kebudayaan Indonesia.

“Bunga Penutup Abad” mengisahkan kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda. Khawatir akan keselamatan putrinya, Nyai Ontosoroh mengutus Panji Darman, pegawainya, untuk mendampingi Annelies dan melaporkan keadaannya melalui surat-surat. Pementasan “Bunga Penutup Abad” akan diperankan oleh Happy Salma (Nyai Ontosoroh), Reza Rahadian (Minke), dan Chelsea Islan (Annelies) sebagai pemeran utama serta Wawan Sofwan sebagai Sutradara dan penulis naskah.
Tampil berbeda dari sebelumnya, “Bunga Penutup Abad” menyuguhkan naskah yang lebih padat dan skenografi panggung yang baru. Untuk pemeran, tokoh Nyai Ontosoroh kini dihidupkan oleh Happy Salma, sementara peran Jean Marais dan May Marais dipercayakan kepada Andrew Trigg dan Sajani Arifin.

“Kami sangat bangga dapat kembali menjadi bagian dari pementasan Bunga Penutup Abad ini sejak awal hingga saat ini. Kami melihat bagaimana karya sastra Pramoedya Ananta Toer ini memiliki cerita dan karakter yang kuat dan sangat berkesan di hati penonton. Kehadiran kembali pementasan ini membuktikan bahwa karya teater yang berkualitas selalu layak untuk diapresiasi, dan menjadi jembatan yang efektif untuk mengenalkan sastrawan besar Indonesia kepada generasi baru,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.
Pementasan “Bunga Penutup Abad” terselenggara berkat dukungan dari PT Pertamina (Persero), Ciputra Artpreneur, BCA, Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta, Jeeves Indonesia, dan The Dharmawangsa.
