Posted in

Henry Brata: Altruisme, Inklusivitas Kuliner, dan Prinsip Keberlanjutan

Courtesy of Rici Linde (@ricilinde)

Tren kuliner di Jakarta selalu bergerak dinamis, namun tidak banyak restoran yang mampu menawarkan kombinasi antara konsep unik, kedekatan emosional, dan idealisme yang matang. Di tengah hiruk-pikuk skena kuliner ibu kota – Isabella, sebuah restoran yang terletak di Jl. Wolter Monginsidi No. 67A, Jakarta Selatan, hadir mencuri perhatian.

Dikepalai oleh Chef Henry Brata, Isabella bukan sekadar tempat untuk bersantap biasa. Restoran ini merupakan perwujudan dari perjalanan hidup, dedikasi, serta pembuktian visi dari seorang chef yang telah melanglang buana di industri F&B internasional. Selama proses interview dan photoshoot bersama Henry selama setengah hari di Isabella, The Societies memahami mengapa kehadiran sang chef membawa kesan positif bagi seluruh timnya sekaligus memberikan cakrawala baru mengenai dunia kuliner melalui pendekatan yang lebih inklusif.

Isabella sendiri menghadirkan hal unik di tengah steakhouse yang menjamur di Ibu kota dengan konsep Itameshi perpaduan unik dan harmonis antara kebudayaan kuliner Italia dan Jepang.

Henry melihat pasar Itameshi sebagai peluang besar karena tren kuliner Jepang dan Italia memiliki basis massa yang sangat loyal di Jakarta. Di restoran ini, karakteristik rasa yang berlimpah khas Italia berpadu sempurna dengan presisi tinggi serta metode memasak tingkat tinggi dari Jepang.

Serendipitas Masa Remaja dan Dapur Michelin-Starred

Courtesy of Rici Linde (@ricilinde)

Sebelum sukses mendirikan Isabella, jalan hidup Henry Brata di dunia kuliner sebenarnya berakar dari sebuah ketidaksengajaan atau serendipitas. Saat remaja, ia membutuhkan uang saku tambahan, dan di situlah kariernya di dunia kuliner bermula.

Meski sempat terkendala kemampuan bahasa Inggris pada awal kariernya, kegigihan membawa Henry berhasil menembus pasar kerja internasional di Dubai dan Turki sekitar tahun 2012. Di Dubai, ia berkesempatan bekerja di bawah arahan Alfredo Russo, seorang maestro kuliner peraih bintang Michelin. Di bawah tempaan keras dapur dengan gaya Eropa klasik yang sangat ketat terhadap aturan dan penuh tekanan, Henry belajar banyak tentang presisi dan tanggung jawab profesi. Dari pengalaman tersebut, ia memegang teguh satu prinsip yang diajarkan mentornya: “Trust is good, but control is better.”

Namun, kesuksesan di mancanegara tersebut menemui titik balik pada awal tahun 2023 lalu. Kesadaran bahwa waktu bersama sang ibu semakin terbatas membuatnya memilih untuk pulang ke Indonesia. Setelah sempat bekerja di beberapa restoran di Jakarta, Henry memutuskan untuk mengambil langkah besar dengan membangun restorannya sendiri yang resmi beroperasi pada akhir Desember 2025.

Isabella: Kehangatan Rumah dan Komitmen Keberlanjutan

Nama “Isabella” yang melambangkan kasih sayang dan kehangatan sendiri diambil dari nama nenek Henry dan saudara perempuan dari mitranya. Atmosfer penuh kehangatan ini diterjemahkan ke dalam interior restoran yang unik, berupa deretan kombinasi kursi yang sengaja dibuat tidak seragam namun tetap tertata rapi. Hal ini guna menciptakan kenyamanan layaknya sedang menyantap hidangan di rumah sendiri.

Berbeda dengan banyak steakhouse premium di Jakarta yang mengutamakan prime cuts (tenderloin atau ribeye), Isabella dengan berani mengangkat secondary cuts – seperti flat iron dan bavetta) sebagai menu utama. Strategi ini didasari oleh prinsip keberlanjutan agar seluruh bagian sapi dapat dimanfaatkan dengan baik tanpa menyisakan limbah makanan.

Dengan teknik pengolahan yang tepat, daging secondary cuts tersebut disajikan menggunakan charcoal oven dengan memanfaatkan arang kayu rambutan khusus pada suhu 250–300°C. Metode ini memberikan reaksi Maillard yang maksimal dan efek smoky yang pas, sehingga daging menghasilkan tekstur yang padat dan kaya rasa.

Visi besar Henry di Isabella adalah menyajikan hidangan berkualitas tinggi dengan harga yang tetap terjangkau bagi masyarakat luas. Caranya adalah dengan membeli daging secara utuh, lalu memotong dan mendistribusikannya sendiri ke berbagai jenis menu di dapur. Melalui efisiensi harga ini, Henry berharap dapat memperluas aksesibilitas dan meningkatkan literasi kuliner masyarakat Indonesia.

Satu hal yang membuat Isabella berbeda dengan steakhouse lainnya di ibu kota adalah komitmennya sebagai restoran yang menyajikan menu makanan dan minuman 100% non-alkohol. Selain untuk memberikan rasa aman bagi mayoritas konsumen Muslim di Indonesia, konsep ini juga bertujuan untuk menggaet pasar generasi muda—terutama Gen Z yang kini mulai beralih ke tren zero-proof beverage. Melalui komitmen tersebut, Isabella menyajikan mocktail berbasis soda dan sitrus yang dirancang khusus untuk menyeimbangkan kadar lemak  dari hidangan daging, sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai alternatif menikmati hidangan lezat lewat pairing minuman non-alkohol.

Manajemen Dapur Modern: Mengutamakan Pendekatan Humanis

Courtesy of Rici Linde (@ricilinde)

Sebagai pemimpin, Chef Henry Brata menerapkan gaya kepemimpinan yang humanis namun tetap menerapkan disiplin yang tinggi. Secara tegas, ia menolak tren di media sosial yang melakukan glorifikasi terhadap kekerasan atau budaya berteriak di dalam dapur profesional.

“Disiplin boleh, tapi bukan yang bersifat abusive. Menurut saya pribadi, ketika tim bisa bekerja tanpa tekanan yang berlebihan, kreativitas mereka justru akan berkembang keluar,” jelas Henry.

Di Isabella, Henry memposisikan dirinya bukan sebagai pemimpin otokratis, melainkan sebagai mentor yang memberikan panggung dan arahan bagi para stafnya agar berkembang menjadi pemimpin masa depan. Hubungan kekeluargaan yang erat antara manajemen, tim dapur, hingga bagian back office inilah yang menjadi fondasi kuat Isabella dalam menghadapi tantangan pasar.

Filosofi “Piring Kosong” dan Visi Masa Depan

Courtesy of Rici Linde (@ricilinde)

Bagi Henry, kesuksesan sebuah restoran tidak hanya dinilai dari piring yang kembali dalam keadaan kosong, melainkan dari pancaran kepuasan serta ekspresi natural para tamu yang datang mencari kehangatan.

“Bagi saya, an empty plate is not just an empty plate. Piring kosong belum tentu bermakna pelanggan sangat puas dengan servis yang kami berikan. Oleh karena itu, saya selalu mengajarkan staf untuk memastikan kepuasan dengan sekadar bertanya langsung bagaimana hidangan yang disajikan dan apa yang dapat kami tingkatkan untuk mereka,” jelas Henry.

Dalam rencana lima tahun ke depan, Henry memiliki mimpi besar untuk membawa Isabella melangkah ke luar dari Indonesia. Ia berharap restoran ini dapat membuka cabang di luar negeri dan menyerahkan estafet operasional dapur kepada figur baru yang telah ia didik dengan baik.

Sementara untuk impian pribadinya, ia berharap suatu saat bisa membuka sebuah usaha soto. Sebuah warung kecil yang fokus menyajikan satu menu sederhana favorit semua lapisan masyarakat, namun dikerjakan dengan keahlian serta dedikasi maksimal.

Di samping pencapaiannya yang gemilang dan pengalaman profesional bertahun-tahun, Henry tetap rendah hati.

“Saya masih perlu belajar dalam berbagai hal, seiring dengan perjalanan karier dan kehidupan. Di tengah dunia kuliner yang tampak meromantisasi figur chef yang keras, saya memilih untuk tidak menghilangkan sisi hangat dan jenaka meski di tengah tekanan dapur yang tinggi,” tutup Henry.