Terinspirasi dari rumah adat Omo Salawa hingga tradisi pahat batu Pulau Nias, lini busana Mel Ahyar Archipelago menghadirkan 20 look bernuansa sculptural yang mempertemukan craftsmanship lokal dengan estetika kontemporer.
Di lepas pantai barat Sumatera, Pulau Nias berdiri dengan lanskap budaya yang terdistingsi secara tegas oleh lanskap Samudra Hindia. Berkembang dalam isolasi geografis selama berabad-abad, masyarakat Nias tradisional membentuk peradaban Megalitikum yang kaya tanpa mengenal sistem aksara tertulis sebelum masuknya pengaruh luar pada abad ke-19. Tanpa adanya abjad, masyarakat Nias mengabadikan silsilah, hukum adat, hingga peristiwa bersejarah melalui medium pahatan pada medium berupa batu dan kayu. Relief-relief ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan “perpustakaan hidup” yang terukir indah pada dinding-dinding Omo Salawa (rumah panggung raja) dan artefak megalitik di seluruh penjuru pulau.
Sensitivitas sejarah inilah yang ditangkap oleh perancang busana Mel Ahyar. Melihat seni pahat Nias sebagai bentuk pertukangan berbasis memori dan emosi, Mel menerjemahkan bahasa visual kuno tersebut ke dalam lini busana teranyarnya, Mel Ahyar Archipelago for Nias “Tanö Niha”. Koleksi ini resmi diperkenalkan bersamaan dengan peresmian Mel Ahyar Boutique seluas 66 meter persegi di Senayan City, Jakarta Pusat, yang dirancang modern dengan balutan warna netral, struktur gelap, kayu hangat, serta aksen signature Bara Jingga.

Eksplorasi mendalam terhadap seni ukir dan arsitektur Tanö Niha – sebutan lokal untuk Pulau Nias, diwujudkan Mel Ahyar ke dalam 20 look bernuansa sculptural. Rangkaian busana ini didominasi rona gelap bertekstur yang menyerupai batuan purba dan ukiran kayu kayu tebal. Upaya Mel Ahyar dalam mengangkat kebudayaan Nias—yang mencakup Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat, hingga Kota Gunungsitoli—mendapat apresiasi positif dari para pelaku industri mode atas pendekatannya yang tidak sekadar mereproduksi simbol secara mentah.
“Bentuk pertukangan (craftsmanship) tertinggi tercipta ketika kita bekerja tidak hanya dengan tangan, tetapi juga dengan hati. Dalam koleksi ‘Tanö Niha’, relief dan cerita kehidupan yang terpahat pada kayu dan batu menjadi ruh utama yang kami terjemahkan ke dalam bahasa busana,” ungkap Mel Ahyar.
“Kekayaan budaya Megalitikum Nias—mulai dari patung batu hingga arsitektur Omo Sebua—memiliki karakter yang sangat kontras dan istimewa. Kami berharap ‘Tanö Niha’ dapat menjadi representasi yang baik bagi seluruh wilayah Pulau Nias sekaligus memperkenalkan warisan tradisi ini kepada publik luas,” pukas Arie Panca, Co-Founder & CEO Maison MAC.

Melalui hadirnya Mel Ahyar Boutique di Senayan City, kini masyarakat dapat menyaksikan secara langsung perpaduan antara rancangan busana tinggi, kekayaan wastra, dan narasi sejarah Pulau Nias dalam satu ruang pengalaman yang terpadu.
