Dua produsen wiski single malt terkemuka asal Skotlandia – Glengoyne dan Tamdhu, resmi menandai debut mereka di pasar Indonesia. Peluncuran ini dirayakan melalui sebuah perayaan eksklusif yang digelar di Cohiba Atmosphere Jakarta (25/6), sekaligus memperkenalkan karakter unik kedua merek tersebut ke dalam lanskap wiski premium Indonesia yang terus berkembang pesat.
60 tamu undangan terpilih yang terdiri dari para pelaku industri, pencinta wiski, tastemakers, kolektor, tokoh media serta publik figur terlihat menghadiri acara tersebut. Tidak hanya hadir di acara, para tamu diajak menikmati rangkaian jamuan makan malam terkurasi dengan whisky pairing.
Seiring dengan berkembangnya apresiasi masyarakat Indonesia terhadap single malt premium, perilaku konsumen kini mulai bergeser dan tidak lagi sekadar melihat popularitas label semata. Asal-usul (provenance), pengaruh tong kayu (cask influence), filosofi produksi, hingga keaslian (authenticity) telah menjadi topik perbincangan utama—khususnya di kalangan generasi baru penikmat wiski yang mencari keunikan karakter dan pengalaman mencicipi yang mendalam. Melalui dinamika lanskap pasar di atas, Glengoyne dan Tamdhu resmi hadir memenuhi kebutuhan tersebut.

Didirikan pada tahun 1833, Glengoyne telah lama diakui sebagai salah satu penyulingan Highland paling elegan di Skotlandia. Proses penyulingan bergaya slow-crafted menghasilkan gaya wiski yang halus. Dibuat dengan penuh kesabaran, wiski Glengoyne menampilkan lapisan rasa honeyed orchard fruit, rempah lembut, dan sentuhan kayu ek panggang yang dihadirkan melalui keseimbangan serta ketepatan rasa yang maksimal.
Sebaliknya, Tamdhu yang didirikan pada tahun 1897 di jantung wilayah Speyside, menawarkan kontras rasa yang memikat. Melalui proses pematangan eksklusif di dalam tong sherry Oloroso, penyulingan ini dikenal dengan karakteristik wiski yang kaya dan memiliki intensitas mewah. Di dalam setiap sesapannya, aroma buah kering, kakao hitam, rempah yang menghangatkan, serta kayu ek berpadu dengan kedalaman tekstur yang luar biasa.
Secara keseluruhan, kedua penyulingan ini mewakili dua interpretasi berbeda dari wiski single malt Scotch—di mana satu brand tampil lebih elegan dan tertata (restrained) – sementara yang lain hadir berani dengan karakter dominan sherry yang mendalam (deeply sherried).
Terkait peluncuran ini, Gordon Dundas selaku Brand Development & Advocacy Director untuk Glengoyne dan Tamdhu, menggambarkan peluncuran ini sebagai langkah besar masuk ke salah satu pasar wiski yang paling dinamis di Asia Tenggara.
“Dengan memadukan gaya Glengoyne yang tidak terburu-buru dan berkarakter kuat dengan dedikasi Tamdhu terhadap pematangan tong sherry yang luar biasa, kami dapat menyajikan portofolio single malt yang benar-benar memikat di Indonesia. Kami sangat senang dapat bermitra dengan Cikel Abadi dan percaya bahwa terdapat peluang signifikan untuk mengembangkan merek-merek ini di pasar yang menarik seperti Indonesia,” ujar Gordon.
Inti dari acara malam eksklusif tersebut terletak pada pengalaman four-course dining yang khusus dirancang secara eksklusif oleh Cohiba Atmosphere Jakarta. Terdiri dari Caesar salad klasik, sup jamur hangat, sebelum beralih ke hidangan utama berupa daging tenderloin, dan tiramisu, setiap tahapan hidangan dipadukan dengan varian wiski yang berbeda seperti Glengoyne 15 Year Old, Glengoyne 18 Year Old, Tamdhu 15 Year Old, dan Tamdhu 18 Year Old.
Malam tersebut juga menyajikan bespoke cocktail yang diracik menggunakan Glengoyne 12 Tahun. Menu ini menawarkan interpretasi kontemporer dari single malt sekaligus menonjolkan fleksibilitas penggunaannya di luar penyajian tradisional. Sentuhan sitrus yang segar, rempah lembut, dan komposisi yang kuat memungkinkan rasa wiski berkembang ke berbagai arah rasa yang unik sepanjang malam.

Menjadi fondasi dari seluruh pengalaman ini adalah filosofi yang dipegang teguh oleh kedua penyulingan: wiski tidak boleh dibuat dengan terburu-buru. Di tengah pergerakan industri modern yang kian dituntut serbacepat, baik Glengoyne maupun Tamdhu tetap berkomitmen pada metode produksi yang lebih lambat dan penuh pertimbangan (slow-crafted). Di sini, waktu bukan sekadar bagian dari proses operasional, melainkan menjelma menjadi bagian dari rasa itu sendiri.
Memimpin representasi lokal di tanah air, Edhi Sumadi selaku Chief Principal untuk Glengoyne dan Tamdhu di Indonesia, melihat adanya keselarasan yang kuat antara idealisme kedua penyulingan dengan budaya penikmat wiski Indonesia yang kian matang.
“Merupakan suatu kehormatan dapat memperkenalkan Glengoyne dan Tamdhu secara resmi di Indonesia. Kami percaya bahwa pencinta wiski saat ini kian kritis; mereka tidak hanya mencari rasa yang familier, melainkan juga penasaran dengan aspek keahlian pembuatan (craftsmanship), asal-usul, serta kisah di balik apa yang mereka minum,” tutur Edhi.
Pascapeluncuran ini, Glengoyne dan Tamdhu bersiap untuk memulai kehadirannya di berbagai gerai premium pilihan dan destinasi khusus wiski di seluruh Indonesia, memberikan kesempatan bagi konsumen untuk mengeksplorasi dua ekspresi berbeda dari keahlian single malt Skotlandia secara bertahap.
Berakar dari ketelitian yang dibentuk oleh waktu, Glengoyne dan Tamdhu hadir di Indonesia bukan sekadar sebagai wiski single malt, melainkan sebagai sebuah pengalaman yang dirancang untuk dinikmati secara perlahan.
