Kisah Ronggeng Gunung Dalam Pentas “Sang Kembang Bale”

3 min read

Sebagai salah satu institusi pegiat budaya ternama tanah air, Bakti Budaya Djarum Foundation berkomitmen dalam melestarikan budaya tanah air dan memastikan eksistensinya di setiap generasi – termasuk tetap menghidupkan budaya yang hampir punah. Salah satu bukti dari komitmen tersebut adalah pertunjukan “Sang Kembang Bale” yang menampilkan Ariel Tatum dan akan dipentaskan pada 10-11 Agustus 2024 mendatang di NuArt Sculpture Park, Bandung.

Bekerjasama dengan Titimangsa Foundation, pertunjukan bertajuk “Sang Kembang Bale (Nyanyian yang Kutitipkan pada Angin)” ini mengangkat kesenian Ronggeng Gunung dari Jawa Barat. Ronggeng Gunung sendiri merupakan kesenian tradisi asal Ciamis dan Pangandaran yang termasuk kategori warisan budaya tak benda atau warisan budaya yang tak dapat dilihat atau diraba, namun eksistensinya hidup di sekitar kita. Sayangnya, kesenian Ronggeng Gunung sudah hampir punah dan hanya menyisakan dua individu sebagai pegiatnya.

Courtesy of Indonesia Kaya

“Mengangkat tema Ronggeng Gunung berdasarkan biografi pelaku atau pewaris Ronggeng Gunung ke panggung pertunjukan, Sang Kembang Bale adalah salah satu alternatif menghidupkan kembali relasi nilai- nilai dan relasi interaksi manusia dengan manusia & penciptanya. Penggambaran alur, gerak, musik  lagu yang dibawakan oleh Ariel Tatum dan seluruh tim yang terlibat semoga bisa menjadi arsip kebudayaan yang didapat melalui pengalaman menonton yang berbeda,” ungkap Heliana Sinaga, sang sutradara dalam konferensi pers yang diadakan pada Kamis (1/8) di Auditorium Galeri Indonesia Kaya.

Selain Heliana, Toni Lesmana dan Wida Waridah yang berasal dari Ciamis dipercaya menulis naskah pertunjukan ini. Naskah “Sang Kembang Bale” sangat otentik dan sarat nilai budaya dan sejarah karena berasal dari hasil wawancara langsung dengan pelaku kesenian Ronggeng Gunung, yaitu Bi Pejoh, Bi Raspi dan Mang Sarli yang menceritakan pengalaman mereka selama menekuni kesenian tersebut, terutama di daerah Panyutran yang terletak di Pangandaran, Jawa Barat.

Courtesy of Indonesia Kaya

Menjadi seorang Ronggeng Gunung tentunya tidak hanya dituntut untuk menari – namun juga menyanyi, bermain, dan menciptakan komposisi musik serta lirik secara langsung. Pertunjukan ini menjadi istimewa karena merupakan kali pertama Ariel Tatum bermain monolog di atas panggung. “Rasanya sungguh penuh haru, seperti udara segar yang baru. Ronggeng Gunung adalah sebuah kemagisan dari leluhur kita sendiri, jadi memang hanya kita yang bisa meneruskan itu semua. Semoga dengan pementasan ini generasi muda mau belajar lebih banyak, mau tahu lebih banyak hal sehingga kita akan lebih kaya lagi dengan budaya-budaya yang sebenarnya sudah lama ada dan mengalir di tubuh kita,” harap Ariel Tatum.

Diproduseri oleh Happy Salma dan Pradetya Novitri, Pementasan ini didukung penuh oleh Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Bank BCA serta NuArt Sculpture Park, Bandung sebagai venue partner.

You May Also Like

More From Author