Dalam Bahasa Sanskerta, kata “Purana” secara harafiah berarti kumpulan kisah kuno tentang penciptaan, sejarah, legenda, silsilah dewa dan raja, serta kosmologi. Makna historis tersebut diterjemahkan secara implisit oleh jenama PURANA yang didirikan oleh sang founder, Nonita Respati. Selaras dengan makna sarat sejarah dari kata Sanskerta tersebut, brand yang didirikan sejak tahun 2009 ini mengartikan hal tersebut sebagai komitmen untuk menghormati “Pusaka” atau arsip tradisi dan warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan dan dimodernisasi.
Ketika The Societies bertemu dengan sang desainer sehari sebelum peluncuran acara “PURANA 16 Years: A Tapestry of Nature” di Cikini 82 – Jakarta Pusat, kami melihat kejeniusan Nonita Respati yang mampu menerjemahkan wastra dan unsur budaya Indonesia yang kental ke dalam sebuah inovasi desain dan produk yang relatable dengan masa kini. Tampil cantik dengan gaya effortless chic melalui padanan kemeja putih dari PURAGRAPH, celana hitam dan sepasang sepatu loafers berwarna coklat, sang desainer mengajak kami berkeliling melihat preview koleksi perdana dari PURANA Home dan bercerita mengenai 16 tahun perjalanan PURANA di dunia fashion tanah air dan kisah suksesnya sebagai desainer mode yang berhasil mengangkat wastra di berbagai panggung bergengsi dunia.

“Perjalanan ini dimulai pada tahun 2009 saat PURANA didirikan. Awalnya, kami melihat peluang untuk membawa wastra tradisional, yang sering dianggap formal atau hanya untuk acara tertentu, menjadi busana ready-to-wear harian,” kenang Nonita. Tentunya, keyakinan untuk berkecimpung di bidang tersebut didasari kesadaran bahwa Indonesia memiliki arsip budaya, teknik, dan inovasi yang tak terbatas dalam wastra, dan PURANA hadir sebagai jembatan untuk memodernisasi hal itu.
Seperti yang diketahui publik, wastra Indonesia (seperti batik, tenun, songket) masih menghadapi tantangan dalam mencapai penerimaan global dan popularitas di kalangan generasi muda domestik. Hal tersebut melibatkan berbagai unsur seperti penyederhanaan siluet atau identitas serta faktor kepraktisan (wearability). Meski dihadapkan dengan sekelumit tantangan tersebut, PURANA berhasil mengubah wastra menjadi pakaian ready-to-wear yang ringan dan modern (seperti batik brush atau tenun dengan siluet loose) sehingga wastra bisa diterima sebagai busana harian oleh generasi muda Indonesia dan pecinta fashion global.

“Kuncinya adalah siluet kontemporer dan kenyamanan ready-to-wear. Kami menghilangkan kesan berat atau formal pada wastra tradisional. Purana mengolah wastra (batik dan tenun) menjadi potongan yang ringan, desain yang modern, dan motif yang dapat dipadukan (mix and match) dengan pakaian dasar lainnya, sehingga mudah diintegrasikan ke dalam gaya hidup harian, dari kantor hingga acara santai,” tutur Nonita.
Meski memadukan wastra Indonesia dengan unsur modern, Nonita konsisten menghadirkan perpaduan DNA PURANA yang menggabungkan wastra tradisional dengan siluet kontemporer dan menciptakan pola yang otentik. “Inspirasi utama kami adalah kekayaan alam, budaya, flora, fauna, dan arsitektur Indonesia. Setiap motif bukan hanya dekorasi, tetapi hasil co-creation dengan seniman pola lokal, menjadikannya sebuah penceritaan tentang warisan Indonesia,” jelas sang desainer.
Bagi Nonita, ada tiga faktor utama yang membedakan PURANA dengan brand fashion lokal berbasis budaya lainnya. Ketiga hal tersebut adalah DNA Konsistensi Wastra (Komitmen PURANA untuk terus berinovasi dalam motif dan teknik wastra – seperti batik brush dan tenun, yang menjadikannya relevan sebagai ready-to-wear yang modern, bukan sekadar busana etnik), Etika dan Kolaborasi Mendalam (prinsip slow fashion dan etika bisnis yang berpegang pada fair trade serta berkolaborasi mendalam dengan komunitas pengrajin artisan – seperti Batik Semarang dan seniman) serta Diplomasi Budaya (memposisikan diri sebagai gerakan diplomasi budaya yang dibuktikan dengan pencapaian di kancah global seperti LAFW dan kolaborasi brand lintas sektor dengan brand internasional seperti Sephora).

Dapat dikatakan, konsistensi serta inovasi tersebut membuat PURANA bertahan di tengah gempuran fast fashion. “Antisipasi kami terfokus pada tiga strategi untuk melawan gempuran fast fashion. Yang pertama adalah inovasi Lintas Sektor dengan melakukan ekspansi ke PURANA Home Living dan PURAGRAPH untuk menciptakan citra merek yang holistik dan relevan dalam gaya hidup modern. Kemudian melalui penguatan experiential marketing dengan membangun komunitas loyal melalui pengalaman langsung – seperti Pameran Imersif 16 Tahun ini, lokakarya wastra (Jumputan Arashi, Brushed Batik), dan storytelling yang agresif di media sosial untuk mengedukasi nilai di balik harga produk. Langkah terakhir adalah inovasi teknik wastra dengan konsisten berkolaborasi untuk menciptakan teknik wastra yang benar-benar baru, sambil mempertahankan hak cipta desain yang ketat,” terang Nonita.
Pesatnya perkembangan sektor digital membuat PURANA menjadi storyteller selain fokus pada produksi dan kualitas produk. “Dulu, fokus kami terpusat pada pada produksi dan kualitas produk. Sekarang, dunia digital menuntut peran kami sebagai storyteller. Kami harus lebih agresif dalam penceritaan di media sosial untuk mengedukasi konsumen tentang nilai di balik harga, proses kreatif, etika, dan keberlanjutan. Digital adalah alat diplomasi budaya yang sangat kuat,” ujar Nonita. Bagi sang founder, digitalisasi di dunia fashion dan wastra kini berada di persimpangan yang krusial. Tantangan terberat adalah mempertahankan relevansi dan orisinalitas di tengah persaingan fast fashion yang masif. “Wastra harus mampu terus dianggap “segar” dan “kontemporer” oleh Generasi Z dan Milenial tanpa mengorbankan kualitas wastra dan etika produksi yang lambat (slow fashion). Ini menuntut brand untuk lebih agresif dalam storytelling dan inovasi pengalaman,” tambahnya.

Enam belas tahun eksis di dunia mode tanah air, PURANA telah menciptakan berbagai inisiatif seperti pameran retrospektif & imersif 16 tahun dengan konsep multi-sensori dan interaktif, ekspansi lifestyle dengan meluncurkan Purana Home Living (termasuk kolaborasi dengan Sango Ceramics) dan memperkuat lini Puragraph serta mendirikan dana kreatif yaitu “Purana Future Creatives Fund” dari hasil penjualan untuk beasiswa siswa desain dan modal awal koperasi perajin, sebagai komitmen keberlanjutan jangka panjang. Tentunya, hal tersebut selaras dengan salah satu titik balik yang berkesan bagi Nonita selama perjalanan PURANA, berupa komitmen etika yang Ia junjung dimana keputusan tegas untuk hanya berkolaborasi dengan pengrajin yang menjunjung tinggi hak cipta dan praktik kerja yang adil, menjadikan PURANA sebagai brand yang berpegangan teguh pada etika.
Sebagai seorang desainer yang bergerak di bidang mode yang kental dengan wastra dan budaya, Nonita merasa bahwa dunia fashion dan wastra kini berada di persimpangan yang krusial. “Tantangan terberat adalah mempertahankan relevansi dan orisinalitas di tengah persaingan fast fashion yang masif. Wastra harus mampu terus dianggap “segar” dan “kontemporer” oleh Generasi Z dan Milenial tanpa mengorbankan kualitas wastra dan etika produksi yang lambat (slow fashion)” terangnya. Nonita melihat melihat potensi pasar fashion Indonesia, terutama untuk produk-produk lokal seperti PURANA. “Potensi pasar sangat besar, terutama untuk segmen affordable luxury yang memiliki nilai tambah budaya. Konsumen saat ini semakin cerdas dan mencari brand yang tidak hanya menawarkan desain bagus, tetapi juga etika, transparansi, dan cerita. Kami memposisikan Purana di segmen ini, di mana kesadaran akan produk lokal berkualitas tinggi dan beretika sedang tumbuh pesat,” imbuhnya.
Sebagai seorang desainer yang sukses, Nonita memiliki pesan bagi generasi muda yang ingin berkarier di bidang fashion, yaitu memprioritaskan etika dan proses serta menjadikan kesehatan sebagai prasyarat. Ia berpesan agar para desainer muda tidak hanya mengejar hype dan kecepatan agar menciptakan sebuah brand yang beretika karena milestone lebih dari sekadar angka penjualan serta mengutamakan wellness diri karena kreativitas tidak dapat dipaksakan di bawah tekanan yang tidak sehat.

Hal tersebut juga yang diaplikasikan dirinya sebagai desainer ternama yang memiliki jadwal padat. Nonita memprioritaskan diri melalui kesehatan fisik dan mental sebagai prasyarat – bukan sebagai hasil serta memperkuat tim inti dengan mendorong tim untuk memiliki kepemilikan (ownership) dan mendelegasikan beban kerja. Keputusan untuk memfokuskan energi hanya pada PURANA dan nilai-nilai intinya adalah kunci kebangkitan dan keseimbangan.
Menutup sesi wawancara, Nonita berbagi mengenai rencana masa depan bagi dirinya dan tentu saja, untuk PURANA. Dalam lima tahun ke depan (sejalan dengan “Act III Purana: Langgeng 2025 & Beyond”), PURANA akan bertransformasi menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle brand) yang terintegrasi, bukan hanya label busana. “Untuk PURANA, kami akan fokus pada ekspansi lini Home Living dan Puragraph, menjalankan prinsip Zero Waste dan Triple Bottom Line (People, Planet, Profit), dan yang terpenting – menjalankan PURANA Future Creatives Fund untuk terus memberdayakan generasi kreatif Indonesia. Saya ingin terus menjadi visionary yang memastikan bahwa kreativitas PURANA memiliki dampak sosial yang kuat dan berkelanjutan, sambil memastikan kesehatan dan keseimbangan pribadi menjadi fondasi untuk terus berkreasi,” tutup Nonita.
