Jonathan Rachman: The Unplanned Design of Life

8 min read

Ada perkataan Bahasa Inggris yang berbunyi “Some of the most beautiful stories of your life are actually unplanned” – yang berarti “Hal-hal paling indah dalam hidup seringkali terjadi tanpa diduga”. Hal ini yang pertama terbesit di benak The Societies ketika membaca perjalanan hidup desainer interior ternama asal Indonesia, Jonathan Rachman, melalui sebuah sesi wawancara online yang kami lakukan beberapa waktu silam.

Di tengah gemerlap industri desain interior global, nama Jonathan Rachman bersinar dengan keanggunan yang khas—sebuah perpaduan antara kepekaan klasik Barat dan kekayaan budaya Timur. Namun, perjalanan desainer yang kini berbasis di San Francisco ini, yang sering dijuluki celebrity designer, adalah kisah yang sangat manusiawi, lahir dari kejenuhan, keyakinan diri, dan serangkaian “kebetulan yang menyenangkan.”

Bagi sang desainer, kisah hidupnya sebagai seorang putra asal Lampung, Sumatera Selatan, yang berhasil mengukir prestasi gemilang dan mendapat pengakuan internasional di Amerika Serikat, adalah sebuah pesan paling penting untuk menginspirasi generasi muda Indonesia bahwa asal-usul seseorang bukanlah batasan untuk mewujudkan cita-cita. Dengan segudang prestasi yang sudah diukir, siapa sangka dahulu Jonathan tidak pernah berencana untuk berkarir sebagai seorang desainer interior.

“Sejujurnya, saya tidak pernah berencana menjadi seorang desainer interior. Dulu saya hanyalah seorang pekerja kantoran biasa dan saya juga tidak pernah belajar desain secara formal. Pendidikan awal saya adalah di bidang bisnis dan perhotelan di Les Roches – Swiss, tetapi saya dengan cepat menyadari bahwa saya lebih suka menjadi tamu daripada karyawan di hotel atau restoran. Sejak kecil saya sudah tahu bahwa saya memiliki sisi kreatif,” ungkap sang desainer.

Courtesy of Spencer Brown

Meski dirinya gemar menggambar dan membuat bunga dari sutra, momen tepat yang membuatnya sadar akan jalur karir di bidang desain interior. “Saya tidak mengikuti jalur tradisional menuju dunia desain. Saya tidak pernah bekerja untuk orang lain. Saya juga tidak memiliki bekal atau alat untuk membangun bisnis. Satu-satunya hal yang saya miliki hanyalah keyakinan pada diri sendiri. Semuanya terjadi secara kebetulan yang menyenangkan,” terang sang desainer yang menjuluki perjalanan hidupnya dengan tagar #myunplannedlife.

Di luar rencana, minat di bidang desain interior kembali hadir saat Jonathan sudah menjalani pekerjaan di dunia korporat. “Selama dua belas tahun, saya mungkin sudah menempati lebih dari tiga puluh posisi yang berbeda. Berpindah-pindah dari organisasi nirlaba ke dunia pendidikan, lalu ke perhotelan, dan kembali lagi. Saya terus mencari sesuatu yang terasa tepat dan sesuai, tetapi saya tidak pernah menemukannya. Singkat kata, saya merasa sangat tidak bahagia,” kenang sang desainer.

Perasaan tersebutlah yang memotivasi Jonathan untuk membuka toko bunga Fleur’t pada tahun 2002 lalu di Sacramento Street – San Fransisco, dengan berbekal kenangan masa kecil di Sumatera – di mana Ia familiar dengan bunga mawar yang harum dan sering membantu ibunya menata bunga untuk gereja. Bagi Jonathan, Fleur’t benar-benar merupakan hal yang baru dan saat itu menjadi salah satu periode paling bersemangat dalam hidupnya di mana hari-hari terasa panjang dan melelahkan – tetapi bisnis berkembang pesat berkat promosi dari mulut ke mulut.

Layaknya perkataan “Tiada Hasil yang Mengkhianati Usaha”, Jonathan mulai merasakan harum bisnis bunga yang didirikannya ketika desainer busana ternama, Marc Jacobs, mampir dan meminta dirinya untuk membuat rangkaian bunga di butik utamanya di Maiden Lane, New York. Tidak berhenti disitu saja, kepiawaian sang desainer dalam merangkai bunga mendatangkan sejumlah proyek prestisius seperti jabatan florist VIP di Four Seasons serta proyek buket bunga untuk sederet ternama dunia tokoh seperti Madonna, Sarah Jessica Parker, dan Oprah Winfrey.

Di sinilah semua keterampilan yang ia kembangkan secara naluriah sejak kecil perlahan-lahan menyatu menjadi sebuah panggilan. “Semua hal yang dulu saya lakukan secara naluriah sejak kecil—hal-hal yang seolah sudah menjadi bagian dari DNA saya—perlahan-lahan menjadi pekerjaan dan panggilan hidup saya,” tutur sang desainer interior.

Berhasil menorehkan prestasi gemilang di Negara Paman Sam yang terkenal kompetitif di dalam berbagai hal – termasuk desain interior, menegaskan kemampuan Jonathan yang piawai dalam menerapkan fondasi kuat dalam etos kerja dan nilai-nilai dasar dari keluarga.

“Tanpa disiplin, keterampilan organisasi, kekuatan mental, dan kemampuan fisik yang memadai untuk menjalankan berbagai tugas, hampir mustahil bisa berhasil di industri ini. Karena itu, semua kemampuan yang saya kembangkan untuk mempertahankan bisnis awal saya menjadi fondasi bagi etos kerja saya hingga kini. Saya juga tidak melupakan nilai-nilai dasar yang saya dapatkan dari orang tua, saudara perempuan, dan semua yang berperan dalam masa pembentukan saya — mereka juga patut mendapat penghargaan atas siapa saya hari ini,” tuturnya.

Courtesy of DI SINI DI SANA by Rachman & Sons

Dikenal dengan pendekatan “Thoughtful Elegance” dan gaya “Currently Classic”, filosofi desain jonathan adalah tentang pertimbangan penuh – dimana faktor “siapa, mengapa, di mana, apa, dan bagaimana” hadir dalam setiap proyek. Baginya, sebuah desain harus personal – tidak boleh template, dan yang terpenting: keindahan dan fungsi harus berjalan selaras.

“Bagi saya, inspirasi terpenting adalah faktor manusia. Saat saya mendesain untuk rumah megah seorang klien di kawasan klasik dibandingkan dengan rumah pantai klien lain di daerah tropis, prosesnya, karakternya, lokasinya, hingga material yang digunakan akan sangat berbeda. Bersikap penuh pertimbangan berarti mempersonalisasi setiap desain dan layanan yang saya berikan,” terangnya. Tumbuh dalam lingkungan arsitektur dan elemen interior klasik dari Timur dan Barat – yang diibaratkan Jonathan bahwa dirinya adalah “I’m pickled in the best brines of both worlds” – sang desainer interior menerjemahkan elemen klasik dan abadi itu ke dalam setiap proyek yang dikerjakannya. Bagi dirinya, keindahan dan fungsi harus berjalan selaras dalam setiap karya desain.

Meski sudah tersohor di dunia desain interior global, Jonathan tidak pernah melupakan akar budaya indonesia. Salah satu buktinya adalah motif Jawa dan Bali dalam koleksi nya yang bertajuk “Priati” yang berhasil menyeimbangkan seni tradisional dari Timur dengan tuntutan fungsionalitas dan estetika modern dari Barat. “Priati sendiri diciptakan berdasarkan pola tradisional Jawa yang terkenal, yaitu parang. Jika pola itu tidak disederhanakan dan disunting, hasilnya akan terasa terlalu padat dan hanya menjadi tiruan dari versi aslinya. Namun ketika saya memikirkan dengan saksama proses penyuntingan pola, pemilihan warna, dan materialnya, hasilnya terasa segar dan netral namun tetap kaya — sebuah desain klasik masa kini yang sempurna,” ungkap sang desainer yang juga sudah menerbitkan berbagai buku seperti “The Garlic Peanut Story” dan “Currently Classic”.

Berangkat dari kesuksesan tersebut, Jonathan selalu memastikan bahwa kesuksesan di mancanegara tersebut dapat memberikan dampak positif dan mengangkat citra dunia desain serta kerajinan tangan Indonesia di mata dunia. Semuanya selalu kembali pada filosofi dasar desainnya, yaitu untuk tetap setia pada diri sendiri, pada akar dan budaya saya, serta pada nilai-nilai keluarga tempat saya dibesarkan.” Saya selalu berusaha untuk tetap bangga, dan kapan pun memungkinkan serta sesuai, saya dengan alami memperkenalkan keindahan dan kekayaan aset terbaik Indonesia dalam bidang desain, seni, dan kerajinan tangan. Dalam banyak hal, saya merasa terhormat menjadi ‘duta desain dan budaya’ bagi negara kita yang luar biasa ini,” tutur Jonathan.

Courtesy of DI SINI DI SANA by Rachman & Sons

Penghormatan Jonathan terhadap tanah air juga terlihat pada restoran dan toko baru miliknya yang baru saja dibuka di Ubud, DI SINI DI SANA by Rachman & Sons – yang juga merupakan salah satu proyek jangka panjang sekaligus wujud cinta dirinya terhadap karya. Dengan sederet tokoh ternama dari berbagai penjuru dunia telah mengunjungi restoran dan toko tersebut, hal ini menjadi perjalanan yang luar biasa – sekaligus cara dirinya untuk turut mempromosikan kekayaan Indonesia di kancah industri global.

Apresiasi terhadap budaya Indonesia juga ingin diwujudkan Jonathan melalui sejumlah kerjasama dengan pengrajin asal Indonesia dalam proyek-proyek internasional dirinya di masa mendatang – salah satunya kolaborasi dengan Patricia Nurchandra Designs, seorang penyedia kain dan pelapis dinding asal Selandia Baru yang meminta sang desainer untuk merancang sebuah koleksi untuk lini kain dan wallpaper perusahaannya. “ Dalam koleksi ini, saya menggunakan perjalanan hidup saya sebagai sumber inspirasi — perpaduan antara Timur dan Barat — khususnya kenangan saya akan Lampung, Jawa, dan Bali, yang kemudian saya terjemahkan ke dalam desain. Koleksi ini akan kami luncurkan bulan depan di toko dan restoran baru saya. Saya percaya bahwa menggunakan wallpaper dan kain dari koleksi ini dalam berbagai proyek adalah cara terbaik untuk menampilkan kisah Indonesia saya. Kami juga bekerja sama dengan Calissa Home di Jakarta, serta showroom di Amerika Serikat dan Selandia Baru,” ungkapnya.

Terlepas dari kesuksesan global yang sudah diraihnya, Jonathan tidak pernah melihat dirinya sebagai seorang selebritas, meski media telah memberinya julukan ‘celebrity designer’ atas prestasinya di berbagai festival seperti Ubud Writers and Food Festival, pameran desain di Paris dan San Francisco, serta banyak media lainnya di tingkat global. Baginya, julukan tersebut merupakan sebuah kehormatan dan Ia berkomitmen untuk memanfaatkannya sebagai sarana untuk menginspirasi sesama orang Indonesia, bukan hanya di industri desain – tetapi terutama generasi muda, agar mereka percaya bahwa asal-usul bukanlah batasan.

Courtesy of Spencer Brown

Melihat perjalanan karir Jonathan yang berawal dari ketidaksengajaan, The Societies menyimpulkan jika kesuksesan dapat hadir dari berbagai cara tidak terduga dengan berbagai faktor seperti bakat dan passion – seperti di dalam kisah hidup sang desainer interior yang menciptakan desain terindah yang pernah ada di dalam hidupnya. Bagi dirinya, melakukan apa yang dicintai, tetap menjadi diri sendiri di dalam industri serta mendapat begitu banyak kesempatan untuk dipublikasikan dan ditampilkan di berbagai media, menciptakan sebuah perjalanan seumur hidup yang luar biasa.

“Bagi saya misi terpenting dalam hidup sekarang adalah menyebarkan cinta dan berkat yang telah saya terima, melanjutkan warisan luar biasa dari orang tua saya, serta menginspirasi generasi muda Indonesia untuk menjadi diri mereka sendiri, tumbuh, dan membantu menjadikan Indonesia tempat yang lebih baik bagi mereka dan generasi berikutnya,” tutup Jonathan.

You May Also Like

More From Author