Ruang seni NODE by ISA Art and Design menghadirkan sebuah narasi visual yang krusial melalui pameran kolaboratif bertajuk “UNBOUND: Resonating Light”. Menampilkan karya fotografer asal Amerika Serikat, Diane Tuft, dan pematung berbasis Seoul, Allyson Jeong, pameran ini resmi dibuka pada 24 April 2026 sebagai sebuah platform dialog mengenai material, skala, dan urgensi dampak lingkungan.
Pameran ini mengusung tema besar “Material Memory” – sebuah konsep yang menelusuri bagaimana lingkungan dan objek menyimpan residu dari kekuatan masa lalu. Melalui perpaduan fotografi format besar dan patung logam berskala arsitektural, pengunjung diajak untuk menyaksikan sejarah tak kasat mata yang tertanam dalam material—mulai dari perubahan lanskap geologis hingga energi taktil manusia.

Diane Tuft menghadirkan rangkaian foto format besar yang mendokumentasikan perubahan dramatis pada wajah bumi akibat krisis iklim. Karya-karyanya bukan sekadar dokumentasi ilmiah, melainkan portal menuju lingkungan yang tengah berada dalam titik nadir. Dari gletser yang mencair hingga panorama pesisir yang kian menyusut, Tuft menangkap esensi alam sebagai entitas yang dinamis namun sangat rapuh.
Di balik estetika visual yang kuat, tersimpan kritik tajam mengenai ketegangan antara manusia dan alam. Foto-fotonya merekam perjalanan waktu melalui mineral dan garam, menantang persepsi audiens tentang realitas lingkungan ekstrem yang sering kali terabaikan dalam keseharian urban.

Berseberangan dengan skala planet milik Tuft, Allyson Jeong mengeksplorasi hubungan organik antara tubuh manusia dan ruang melalui medium logam. Sebagai seorang seniman yang memiliki latar belakang kuat di bidang perhiasan, Jeong kini membebaskan frekuensi artistiknya dari skala tubuh menuju skala arsitektural galeri yang luas.
Menggunakan kuningan dan baja tahan karat, Jeong secara manual membentuk gelombang visual yang merepresentasikan aliran energi tak terlihat. Baginya, logam adalah bahasa yang merekam pertemuan antara dunia batin dan realitas eksternal. Setiap lekukan pada patungnya menjadi bukti taktil dari proses penggalian, pemurnian, dan energi kerja manusia yang diinvestasikan ke dalam material statis.

Pameran ini menjadi sangat relevan dalam konteks global saat ini, di mana seni berfungsi sebagai jembatan untuk memahami isu-isu kompleks. ISA Art Gallery, sebagai penyelenggara, terus konsisten mendukung seniman perempuan dan diaspora Asia dalam menyuarakan perspektif mereka ke kancah global. “Pameran ini mengajak kita untuk menyaksikan bagaimana material menyimpan ingatan, dari jejak sentuhan manusia dalam skala mikroskopis hingga luka planet akibat perubahan iklim. Ini adalah undangan untuk mengingat dan merespons,” tulis pernyataan resmi dari galeri.
