“Put it on the plate and let it flow”. Kalimat tersebut adalah hal pertama yang The Societies lihat ketika membuka laman media sosial Chef Nalendra Anindita. Rupanya, quotes tersebut lebih dari sekadar sebuah kalimat singkat ketika kami berbincang dengan sang Corporate Director of Food & Beverage JHL Collection dalam sesi exclusive interview di JHL Solitaire Gading Serpong beberapa pekan lalu.
Menangani tiga outlet di bawah naungan JHL Collection, Chef Nalendra melihat bidang f&b tidak hanya meliputi hidangan lezat dan service yang premium. Baginya, inovasi menjadi bagian penting agar sebuah hidangan tetap relevan dengan zaman dan tren. Salah satu inovasi yang dilakukan oleh Chef Nalendra dan tim adalah dengan menghadirkan teknologi Augmented Reality (AR) pada menu digital. “Augmented Reality untuk makanan bukanlah suatu hal yang baru. Tetapi, kami ingin mengedukasi tamu mengenai hal ini dengan menghadirkan konsep journey dengan narasi,” terangnya mengenai fitur yang akan diluncurkan di awal 2025 ini.
Berbeda dengan mayoritas bidang f&b yang menampilkan teknologi AR berupa fitur pop-up, JHL Collection menghadirkan sebuah pengalaman istimewa melalui sebuah perjalanan serta puzzle interaktif. “Contohnya ketika tamu memilih salah satu menu signature kami, “Peking Duck”. Mereka dapat memilih pelengkap atau condiment apa yang cocok dengan hidangan tersebut melalui fitur puzzle tersebut yang sekaligus berfungsi sebagai pengganti cheat sheet untuk memesan menu secara manual,” tutur Chef Nalendra.

Selain menu, teknologi AR juga akan diaplikasikan JHL di sejumlah sudut restoran agar tamu dapat merasakan pengalaman kuliner berbasis teknologi ini secara maksimal. “Sebelum tamu memesan makanan, kami ingin mereka juga merasakan pengalaman kuliner canggih ini secara menyeluruh. Salah satunya adalah mereka dapat berinteraksi dengan fitur ini sejak menginjakkan kaki ke restoran,” ucapnya. Contoh fitur yang dapat ditemukan berupa sebuah pohon dengan sarang madu yang menampilkan proses harvesting melalui sebuah video.
Bagi JHL Collection, implementasi teknologi bukanlah sebuah hal yang asing. Saat pandemi COVID-19, sejumlah robot pengantar makanan (BellaBot) dihadirkan untuk meminimalisir interaksi dengan pengunjung serta hadirnya fitur interaktif “Find the Elf” pada festive season tahun lalu. “Teknologi AR ini akan kami implementasikan di seluruh outlet. Contohnya seperti menu Laksa yang akan ditampilkan di JHL Episode dalam rangka kuliner bertema ‘Peranakan Badui’,” terang Nalendra.
Selain menghadirkan inovasi di bidang f&b melalui teknologi AR, JHL Collection turut memperkenalkan ragam kuliner melalui program Kolaborasa (Kolaborasi Dalam Rasa). Program yang sudah dimulai sejak dua tahun lalu ini merupakan program kolaborasi JHL Collection dengan sejumlah outlet dan pelaku industri kuliner ternama. Tidak hanya kolaborasi semata, program ini turut mengangkat kuliner tradisional yang ikonik serta menghasilkan sebuah hidangan kreatif seperti “Episode Gading Serpong X Rabeg Kambing H. Naswi & Sate Bandeng Hj. Maryam” di tahun 2023 silam. Program “Kolaborasa” juga dapat menjadi tujuan one-stop dining di mana para tamu dapat merasakan sepiring hidangan ikonik hanya dengan mengunjungi outlet JHL Collection.

Bergerak di bidang food & beverage, satu inovasi yang dilakukan oleh JHL Collection adalah memberlakukan prinsip sustainability dan meminimalisir food waste dalam operasionalnya sehari-hari. “Kami memberlakukan prinsip sustainability dan mengawasi prosesnya dari hulu ke hilir. Seperti pemilahan sampah organik yang layak untuk ternak yang kami transfer ke Bogor – tepatnya ke JSI Resort di Megamendung untuk dijadikan pakan hewan di mini zoo kami,” tutur Nalendra. Seperti diketahui, JSI Resort juga memiliki plantation seluas 5 hektar.
Di samping waste management, program penanaman kembali juga dilakukan melalui pemberian benih tanaman/sayur kepada plantation. Komitmen penuh JHL Collection terhadap sustainability juga tampak dari keterlibatan tenaga profesional seperti kerjasama dengan organisasi petani lokal Bogor dan ex-ketua petani Lembang untuk melakukan praktek di plantation tersebut.

Seluruh inovasi yang dilakukan oleh Chef Nalendra dan tim, tentunya tidak lepas dari dukungan JHL Collection untuk mengakomodasi deretan ide cemerlang tersebut. Dengan sejumlah pengalaman kerja di hotel-hotel bintang lima di Timur Tengah dan Indonesia, Nalendra memilih untuk bekerja bagi JHL Collection karena dapat mengapresiasi dan mengakomodasi ide-idenya. Tidak hanya inovasi baginya, dedikasi adalah hal penting ketika menjadi pelaku di industri f&b.
“Komitmen bekerja di bidang f&b bukan sekadar waktu saja. Anda harus memperhatikan faktor-faktor lain yang mempunyai peranan penting seperti demografi dan target market. Tren memang penting, namun harus ada usaha dan juga rencana jangka panjang untuk tidak sekadar menjadikan hal tersebut hits untuk sementara saja,” ucapnya. “Outlet f&b cukup memegang peranan penting untuk kesuksesan hotel. Banyak tamu reguler yang kembali ke hotel untuk menikmati makanan favorit yang hanya dapat ditemui di sana,” tambahnya.
Tentunya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari konsep “Put it on the Plate and let it flow”. “Kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan pernah tau hasilnya atau belajar dari hal tersebut. Jika tidak ada hasil, maka tidak akan ada evaluasi yang mendorong kita untuk lebih sukses atau memperbaiki kesalahan,” tuturnya.
Dengan deretan inovasi serta beragam hidangan yang telah diciptakan, Chef Nalendra merasa kesuksesan terbesarnya di pekerjaan adalah ketika tamu merasa kenyang dan mengingat rasa dari kreasi hidangannya. “Visi utama sebuah outlet f&b adalah harus menciptakan kenangan tak terlupakan. Hal itulah yang harus dijaga agar selalu engage dengan konsumen agar f&b outlet menjadi ultimate dining destination,” tutup Chef Nalendra.
