Posted in

Integrasi Ekosistem ‘Hexahelix’ di WCCE 2026

Diikuti peserta dari 82 negara, ajang ekonomi kreatif dunia di Jakarta ini berhasil menggalang kekuatan hexahelix dan menetapkan Jakarta Vision on Creative Economy untuk agenda global PBB.

The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 resmi mencatatkan sejarah baru sebagai edisi terbesar sepanjang penyelenggaraannya. Berlangsung pada 21–25 Oktober 2026 di Jakarta, konferensi tingkat dunia ini berhasil menyatukan lebih dari 225.000 partisipan dan pengunjung dari 82 negara melalui integrasi rangkaian konferensi utama serta program Creativillage.

Mengusung tema besar “Inclusively Creative: Collective Continuity”, WCCE 2026 tidak hanya memposisikan Jakarta sebagai ruang temu bagi para pembuat kebijakan, pimpinan industri, dan akademisi global, tetapi juga melibatkan komunitas lokal serta masyarakat luas secara inklusif.

Courtesy of WCCE 2026

Berbeda dengan format konferensi internasional konvensional yang terpusat di satu gedung pertemuan, WCCE 2026 memperkenalkan pendekatan baru yang terdesentralisasi, berkelanjutan, dan berbasis komunitas. Rangkaian kegiatan disebarkan ke berbagai ruang kreatif di Jakarta, memanfaatkan keandalan sistem transportasi publik kota sebagai bagian terpadu dari ekosistem kreatif.

  • Konferensi Utama: Menjadi wadah diskusi strategis bagi pembuat kebijakan, delegasi internasional, akademisi, dan pimpinan industri untuk merumuskan arah kebijakan ekonomi kreatif global.
  • Program Creativillage: Menghadirkan pameran, aktivasi merek, pertunjukan, serta pengalaman interaktif yang melibatkan praktisi, komunitas, dan masyarakat umum secara langsung.

Pendekatan terdesentralisasi ini terbukti efektif dalam memanfaatkan infrastruktur kota yang ada, mengoneksikan destinasi kreatif yang telah berkembang, serta menggerakkan roda perekonomian bagi para pelaku usaha lokal.

Courtesy of WCCE 2026

Keunggulan konsep konferensi terdesentralisasi pada WCCE 2026 terwujud secara nyata melalui aktivasi tiga destinasi utama program Creativillage di kawasan bisnis SCBD, Jakarta, yang terdiri dari:

Village One yang berlokasi di Ashta District 8 difokuskan sebagai wadah pameran desain, kriya, arsitektur, dan busana berkelanjutan yang mengangkat identitas budaya Nusantara—melibatkan organisasi seperti ADGI, IAI, serta desainer kondang Adrie Basuki, Poppy Dharsono, dan Wilsen Willim.

Sementara itu, Village Two yang bertempat di MGP Space menjadi pusat eksplorasi teknologi imersif, gim, media digital, dan industri hiburan masa depan dengan dukungan kolaborator global seperti Apple Academy, WIPO, Visinema, Tencent, dan Shopee.

Rangkaian ini ditutup dengan kehadiran Village Three di SCBD Park (WCCE Weekland) yang menghidupkan ruang publik melalui kolaborasi komunitas, perayaan musik bersama Marbles, SEEN, dan Moluccan Soul, serta keterlibatan 88 brand lokal dalam rangka merayakan Hari Ekonomi Kreatif Nasional.

Courtesy of WCCE 2026

WCCE 2026 mengoperasionalkan prinsip hexahelix dengan menyatukan enam elemen utama ekosistem kreatif—pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas, media, dan agregator—melalui keterlibatan lebih dari 200 kolaborator lintas sektor, termasuk Kedutaan Besar Inggris, Kedutaan Besar Prancis, Danantara, Tencent, Indosat, Pagelaran Sabang Merauke, hingga Tale X.

Melalui forum business-to-business (B2B) dan fasilitasi atase perdagangan, para pelaku usaha kreatif berorientasi ekspor mendapatkan akses jejaring pasar internasional secara konkret.

“Filosofi Gotong Royong yang telah mengakar kuat dalam budaya Indonesia menjadi kekuatan penggerak WCCE. Filosofi ini mengingatkan kita bahwa setiap individu memiliki tujuan dalam hidup dan membawa cahayanya masing-masing. Ketika cahaya-cahaya ini bersatu, semuanya akan menjadi mercusuar yang menerangi jalan menuju dunia yang lebih baik.”

— Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Courtesy of WCCE 2026

Diselenggarakannya WCCE 2026 di Jakarta melanjutkan kepemimpinan diplomasi ekonomi kreatif Indonesia yang diinisiasi di Bali (2018), dilanjutkan ke Dubai (2021), Bali (2022), dan Tashkent (2024).

Salah satu capaian strategis dari edisi ke-5 ini adalah adopsi Jakarta Vision on Creative Economy. Dokumen kesepakatan ini menetapkan pilar-pilar prioritas kerja sama internasional, meliputi:

  1. Transformasi digital dan pemanfaatan teknologi.
  2. Keberlanjutan dan penerapan desain sirkular (circular design).
  3. Penguatan ekosistem kreatif yang inklusif.
  4. Perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI).

Prinsip-prinsip dalam Jakarta Vision ini dijadwalkan untuk dibawa ke dalam diskusi global di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada akhir tahun 2026. Dalam kesempatan yang sama, WCCE secara resmi mengumumkan kota Glasgow, Inggris, sebagai tuan rumah penyelenggaraan WCCE selanjutnya pada tahun 2028.

Melalui pencapaian ini, WCCE 2026 menyuarakan pesan tegas bahwa ekonomi kreatif Indonesia merupakan sebuah ekosistem dinamis yang terdiri dari ribuan narasi, gagasan, dan potensi yang menyatu untuk menggerakkan pertumbuhan global.