Setiap tanggal 21 April, sosok Kartini selalu diperingati sebagai simbol dari perjuangan sekaligus keberanian dari kaum hawa. Meski telah menjadi icon kesetaraan untuk perempuan, banyak masyarakat yang masih belum mengetahui asal muasal kegelisahan Kartini terhadap keadaan sosial di masa lampau yang melahirkan gagasan yang merubah nasib perempuan di tanah air.
Dalam rangka memperingati Hari Kartini tahun ini, Titimangsa bersama Bakti Budaya Djarum Foundation mengajak para seniman multigenerasi bersatu dalam sebuah pertunjukan sastra dan suara bertajuk “Terbitlah Terang: Pembacaan Surat dan Gagasan Kartini”. Bertempat di Museum Nasional Indonesia, Jakarta pada Senin (21/1) pementasan ini merupakan sebuah penghormatan terhadap pemikiran, perjuangan, serta jiwa seorang Raden Ajeng Kartini.

Dipersembahkan melalui format pembacaan secara monolog, sejumlah surat asli Kartini kembali dihidupkan melalui suara para seniman ternama Indonesia yang terdiri dari Christine Hakim, Ratna Riantiarno, Reza Rahadian, Marsha Timothy, Maudy Ayunda, Lutesha, Cinta Laura, Chelsea Islan, Happy Salma, dan Bagus Ade Putra. Di bawah arahan Sri Qadariatin sebagai sutradara, para seniman multigenerasi ini tidak sekadar membacakan surat sang pahlawan bangsa, tetapi menghidupkan kembali isi hati Kartini yang meskipun telah ditulis lebih dari seabad lalu, namun tetap terasa begitu relevan dengan kondisi saat ini.
“Hari ini, kita tidak hanya mengenang Kartini sebagai tokoh sejarah, tetapi merayakannya sebagai refleksi bagi setiap manusia—perempuan maupun laki-laki—yang terus berjuang memahami pikirannya, meresapi perasaannya, dan mengekspresikan keduanya secara jujur. Merayakan Kartini adalah merayakan keberanian untuk mengenal diri dan menyuarakan nurani. Kartini telah membuktikan bahwa suara seorang perempuan, ketika jujur pada pikirannya dan setia pada hatinya, memiliki kekuatan untuk mengubah arah sejarah,” ujar Happy Salma, Pendiri Titimangsa.

Surat-surat yang dibacakan bersumber dari buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer, terbitan Lentera Dipantara 2006 dan buku Kartini: Kumpulan Surat-surat 1899-1904 karya Wardinam Djoyonegoro, Jilid 1, terbitan Pustaka Obor 2024. Kartini sendiri menulis surat pertamanya kepada salah satu sahabat penanya, Estelle (Stella) Zeehandelaar, seorang aktivis feminisme di Belanda dan surat tersebut menjadi titik awal dari rangkaian korespondensi yang kemudian dikenal luas sebagai bentuk pemikiran awal perempuan Indonesia tentang emansipasi, pendidikan, dan keadilan sosial.
Pementasan Terbitlah Terang: Pembacaan Surat dan Gagasan Kartini ini juga merupakan bagian dari pembukaan pameran “SUNTING: Jejak Perempuan Indonesia Penggerak Perubahan” yang berlangsung pada 22 April – 31 Juli 2025 di Museum Nasional Indonesia. Pameran ini merupakan penghormatan atas peran perempuan Indonesia dalam sejarah, dengan Sunting sebagai simbol kekuatan, martabat, dan perubahan sosial.

Melalui pameran ini, pengunjung dapat melihat kembali kontribusi perempuan dalam membangun peradaban serta mendorong partisipasi kita dalam perjuangan menuju masa depan yang lebih setara. Dari penerbitan Sunting Melayu oleh Rohana Kudus hingga perjuangan R.A. Kartini, perempuan telah aktif menyuarakan kesetaraan dan membentuk arah bangsa melalui berbagai bidang yang bermula dari kalimat “Panggil Aku Kartini” di dalam surat yang sarat akan keberanian, kesedihan, cinta, amarah, dan harapan.
