“I wanted to prove that action is genderless.” Itulah pernyataan singkat dari sutradara ternama, Timo Tjahjanto, mengenai inspirasi dibalik film terbarunya yang tayang eksklusif di streaming platform Netflix, “The Shadow Strays”. Mengangkat genre laga, film yang tayang perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) 2024 ini menjadi bukti dari kejeniusan Timo dalam meramu film action yang penuh inovasi – baik dari segi cerita hingga subgenre yang dihadirkan di dalamnya.
Bercerita mengenai seorang assassin in-training dengan codename ’13’ (Aurora Ribero) yang harus diistirahatkan setelah gagal menyelesaikan sebuah misi penting oleh sang instruktor, Umbra (Hana Malasan), “The Shadow Strays” menghadirkan sisi humanis dari sosok yang dianggap kuat secara mental dan fisik dalam segala keterbatasannya setelah terlepas segala identitas dan organisasi besar yang menaunginya. Hal ini sejalan dengan visi sang sutradara yang menginterpretasikan film ini sebagai kisah kasih sayang antar manusia dan bagaimana film aksi selalu menghadirkan tenderness di poin tertentu – yang tampak saat 13 bersahabat dengan seorang anak bernama Monji (Ali Fikry) atau ketika terus teringat akan trauma masa kecilnya. Mengutip kata-kata Timo: “The more violent the film, the more you need to be very tender at certain points.”

Meski bergenre laga, “The Shadow Strays” tetap menyuguhkan ciri khas Timo yang sering memproduksi film horror yang mengingatkan The Societies akan sejumlah karyanya seperti “Rumah Dara”, “Takut: Faces of Fear” dan “Killers” yang memadukan unsur psikologis dan gore dengan apik. Dibandingkan dengan sutradara film laga lainnya, karya Timo lebih terkesan weird dan disturbing. Pemilihan grup antagonis yang terdiri dari Prasetyo (Adipati Dolken) yang merupakan seorang polisi yang jauh dari kata ‘bersih’, Haga (Agra Piliang) sebagai pengusaha club yang ruthless dan juga merupakan drug dealer dan Ariel (Andri Mashadi), seorang anak politikus ternama yang berusaha keras keluar dari bayangan sang ayah, cukup menggambarkan kaburnya batas antara kejahatan dan kebaikan serta berbahayanya keadaan psikis seorang manusia yang sayangnya, marak terjadi di dunia nyata.
Tidak hanya cermat dalam memasukan subgenre lain – seperti di filmnya terdahulu “The Night Comes for Us” yang memiliki elemen romantis, Timo sukses menghadirkan inovasi dalam film aksi dengan tema matriarki dan pemilihan dua aktris, Aurora Ribero dan Hana Malasan sebagai tokoh utama. “Saya ingin menceritakan dinamika antara seorang guru dan muridnya. Saya ingin cerita ini lebih dari sekadar dua karakter utama, karena saya rasa penting sekali dunia film itu terasa lived in, bahwa karakter-karakter ini terasa bernafas,” ujar Timo dalam acara konferensi pers dan screening yang bertempat di Epicentrum XXI, Kuningan (15/9). Unsur feminisme pun terlihat melalui karakter 13 sebagai protagonis/pembunuh bayaran yang masih menjalani proses training, namun berusaha dan berani melawan para antagonis yang sudah memiliki jabatan puncak di pekerjaannya masing-masing.

Detail dan kompleksitas dari setiap karakter tidak hanya tercermin melalui background masing-masing, namun juga dalam unsur seperti pemilihan senjata yang digunakan. “Karakter Soriah (Taskya Namya) yang meledak-ledak dan out of control akan terlihat keren saat memakai shotgun. Prasetyo bisa dibilang antagonis yang menarik, dia mengintimidasi tidak secara fisik namun menggunakan pasukan dan koneksinya. Untuk 13 yang masih berlatih menjadi pembunuh, senjatanya berukuran kecil berupa pisau dan pedang yang pendek. Sementara Hana, sang pembunuh veteran memakai katana berwarna hitam yang sangar. Semua karakter itu jadi punya semacam lapisan lagi melalui senjata-senjatanya,” ulas Timo.
Ketika menyaksikan “The Shadow Strays”, kita tidak hanya disuguhkan adegan laga bersimbah darah dan sebuah universe yang kompleks. Beragam isu terkini seperti child abandonment, sandwich generations, konflik lingkungan kerja, isu misogini, hal politis hingga nepotisme ditampilkan secara apik melalui dialog bernada sarkas yang akrab ditelinga serta adegan dengan sinematografi yang apik. Singkat kata, “The Shadow Strays” mengobati rasa rindu penikmat film Indonesia terhadap film aksi dengan tokoh utama wanita serta mendefinisikan ‘The Art of Actions’ melalui tema, sinematografi dan lahirnya generasi baru para pemeran film aksi.
“The Shadow Strays” akan tayang di Netflix pada 17 Oktober 2024.
