Melalui rekayasa material tanpa mengurainya menjadi benang, Desainer Adrie Basuki mengolah limbah tekstil menjadi karya bernilai ekonomi, artistik, dan berdampak sosial.
Industri fashion Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan pesat sebagai salah satu pilar utama ekonomi kreatif nasional. Namun, di balik geliat estetika dan dampak ekonominya, industri mode menyimpan tantangan ekologis yang serius. Sebagian besar limbah pakaian berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa dapat terurai – terutama material seperti polyester dan campuran serat sintetis yang membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk terdekomposisi.
Di tengah ancaman krisis lingkungan tersebut, kebutuhan akan transformasi menuju circular fashion—sebuah sistem mode berkelanjutan yang meminimalkan limbah dan mengoptimalkan siklus hidup material—menjadi semakin mendesak. Industri mode tidak lagi hanya dituntut untuk menghasilkan produk yang estetis, tetapi juga bertanggung jawab secara ekologis.

Merespons tantangan besar ini, perancang busana sekaligus pemenang Lomba Perancang Mode (LPM) 2021, Adrie Basuki, tampil sebagai salah satu pelopor gerakan circular fashion di tanah air. Berbekal kepedulian mendalam terhadap keberlanjutan lingkungan, Adrie menciptakan “Kain Marmer®”—sebuah inovasi rekayasa material yang mengubah pakaian bekas dan sisa potongan kain tekstil menjadi lembaran baru dengan tekstur visual menyerupai batuan marmer alami.
Melalui gagasan “Kain Marmer®, Adrie Basuki tidak sekadar menghadirkan material alternatif untuk panggung peragaan busana – melainkan meredefinisi cara pandang kita terhadap limbah. Melalui pemikiran inovatif sang desainer, material yang semula dianggap sebagai sampah kini bertransformasi menjadi aset seni bernilai ekonomi tinggi, memberi jawaban nyata atas isu sustainability di Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa keberlanjutan dan kemewahan desain dapat menyatu dalam satu ekosistem yang berdampak.
Mayoritas industri daur ulang tekstil dewasa ini masih bergantung pada serat katun murni yang dipintal ulang menjadi benang. Kain Marmer® menghadirkan pendekatan yang berbeda dengan mengolah berbagai jenis limbah tekstil, termasuk polyester dan blended fabric, tanpa harus mengembalikannya ke wujud benang.

Melalui proses riset dan pengembangan yang intensif sejak 2020, limbah tekstil dipilah, dicacah, dipadatkan, hingga dibentuk kembali menjadi lembaran material baru. Hasilnya adalah permukaan bertekstur unik yang tak pernah sama antara satu lembar dengan lembaran lainnya.
Konsistensi Adrie Basuki membawakan narasi circular fashion di panggung peragaan busana—seperti Jakarta Fashion Week (JFW), Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW), dan Jakarta Fashion Festival (JF3)—turut dibarengi pesan emosional. Koleksi busananya seperti Transforma dan Benang Jiwa (bersama Prisia Nasution) dipersembahkan sebagai penghormatan bagi penyintas kanker, sementara koleksi “Jantung Nadi” mengeksplorasi isu kesehatan jantung melalui interpretasi batik kontemporer.
Inovasi Kain Marmer® juga memicu berbagai kemitraan strategis lintas sektor. Portofolio kolaborasinya mencakup brand fashion internasional UNIQLO (2022), sektor hospitality Sofitel (2023), institusi perbankan (OCBC, Bank UOB, dan BCA Syariah), hingga industri otomotif bersama Mazda Indonesia (2026). Semangat kolaborasi ini turut didukung oleh Pizza Hut Ristorante Metro Pondok Indah (venue acara preview koleksi “Kain Marmer”), yang mempertemukan ruang ekspresi kreativitas dengan seni gastronomi khas Italia.
Bagi Adrie Basuki, circular fashion tidak hanya seputar kelestarian lingkungan, melainkan juga pemberdayaan manusia. Melalui berbagai lokakarya dan program kemitraan sosial, Kain Marmer® dikembangkan sebagai platform edukasi inklusif.
Adrie secara aktif berkolaborasi dengan Cancer Information & Support Center (CISC), Love Pink Indonesia, Make-A-Wish Indonesia, dan Yayasan Jantung Indonesia. Program-program ini merangkul para penyintas kanker, perempuan dari komunitas rentan, ibu rumah tangga, seniman neurodivergent, hingga perajin lokal untuk membangun keterampilan ekonomi kreatif.

“Bagi saya, circular fashion bukan sekadar menggunakan material daur ulang. Ini adalah tentang memberi kesempatan kedua—kepada material, kepada manusia, dan kepada cerita yang pernah ada. Ketika sebuah kain memperoleh kehidupan baru, saya percaya harapan juga ikut lahir bersama proses itu.”
— Adrie Basuki, Founder Kain Marmer® & Circular Fashion Designer.
Melalui pengintegrasian antara eksperimen desain, kelestarian ekologi, dan dampak sosial, Kain Marmer® kini tumbuh menjadi platform inovasi lokal yang mempertegas arah baru industri fashion berkelanjutan di Indonesia.
