Pop Culture Rakyat yang Terlupakan di “Cerita Kaca”

3 min read

Menilik sejarah, seni lukisan kaca di Indonesia sempat memiliki masa emas, yaitu di era 1970 hingga 1990-an, namun sudah jarang ditemui belakangan ini. Tergerusnya seni lukis kaca inilah yang mendorong Dia.Lo.Gue Artspace untuk mengadakan pameran bertajuk “Cerita Kaca” yang diadakan dari tanggal 4 Februari hingga 19 April mendatang. Tidak hanya mengingatkan kembali masyarakat akan karya seni yang terlupakkan, pameran ini juga menyuarakan spirit pertukaran budaya organik dari sebuah seni lukis kaca kepada rakyat.

Dikurasi oleh Hermawan Tanzil dan Chabib Duta Hapsoro, pameran ini menampilkan beragam karya lukisan kaca yang sarat akan nilai sejarah. “Lukisan kaca menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Kepulauan Nusantara di sekitar abad ke-19. Dalam sejarahnya, seni lukis kaca muncul pertama kali di Eropa pada abad ke-14 dan menyebar ke Tiongkok, india dan Timur Tengah di abad ke-17 dan 18 melalui patronase raja dan bangsawan di sana,” tutur Hermawan Tanzil, sang kurator sekaligus owner dari Dia.Lo.Gue Artspace di tur galeri yang The Societies ikuti.

Courtesy of The Societies

Menampilkan deretan karya lukisan kaca dari Bahendi, Elang Aruna, H.Winta, Haryadi Suadi dan I Ketut Santosa, pameran “Cerita Kaca” terbagi dalam beberapa zona dengan beragam tema seperti pewayangan yang mengangkat beragam tema seperti pewayangan dan sosok penting dalam sejarah lukisan kaca seperti Rastika dan Haryadi Suadi.

Tema tersebut meliputi kisah epos Ramayana dan Mahabarata, tema religi yang menampilkan pengaruh kebudayaan Islam dari Timur Tengah, cerita rakyat yang menonjolkan lukisan kaca sebagai seni rakyat, lukisan kaca serbaneka dan kisah Putri Tiongkok dan Putri Campa yang populer.

Courtesy of The Societies

Selain menampilkan lukisan kaca sarat sejarah, terdapat beberapa instalasi khusus seperti instalasi interaktif yang menunjukkan seni melukis di atas kaca dari perspektif berbeda dan sebuah sudut istimewa yang didedikasikan kepada salah satu maestro pelukis kaca Indonesia asal Cirebon, Rastika.

Yang membuat lukisan kaca spesial adalah metode dan pemangku peran di belakangnya. Lukisan yang ditoreh secara terbalik ini mengangkat tema yang lekat dengan kehidupan sosial dan  menunjukkan spirit akulturatif yang merujuk pada eksistensi seni lukis kaca sebagai seni rakyat di Indonesia, di mana para rakyat jelata yang tampil sebagai aktor utama – berbeda dengan lukisan pada umumnya.

Courtesy of The Societies

Ekspresi lugas dan jujur dari rakyat yang menyambung nafas seni-seni tradisi di dalam medium kaca menunjukkan sifat universal lukisan kaca yang berarti seni bebas dimiliki oleh siapapun, tanpa terkecuali. Ragam cerita dan narasi juga merefleksikan seni lukis kaca yang bersifat universal dan terbuka akan beragam tafsir dan lokalitas.

Melalui pameran “Cerita Kaca”, wawasan historis dan sosiokultural seni lukis kaca yang mulai terlupakan kembali “hidup” dan mengingatkan masyarakat Indonesia tentang sebuah karya seni milik rakyat. Dalam kata lain, seni lukis kaca merupakan pop culture yang mewakili daya-tahan kultural rakyat Indonesia dalam menghadapi perubahan sosial.

“Cerita Kaca”
4 Februari – 19 April 2024
11.00 – 20.00 WIB
(Pameran terbuka untuk umum)

Dia.Lo.Gue
Jl. Kemang Selatan No.99A
Mampang Prapatan
Jakarta Selatan
(+62) 7199671

You May Also Like

More From Author