Tema “Recrafted: Shaping The Future” di JF3 Talk 2026

5 min read

Diskusi tahunan JF3 Talk kembali hadir pada Selasa, 19 Mei 2026 di Summarecon Discovery – La Piazza, Kelapa Gading. Mengusung tema besar “Recrafted: Shaping The Future — Karya yang Kuat Tetap Butuh Cerita dan Komunikasi yang Tepat”, forum ini mempertemukan para pemangku kepentingan industri fashion untuk membedah tantangan integrasi ekosistem, strategi komunikasi pascapandemi, serta pentingnya narasi dalam membangun sebuah jenama kreatif.

Acara yang dipandu oleh Dino Augusto selaku moderator ini menghadirkan tiga narasumber utama yang terdiri dari  Thresia Mareta (Advisor JF3, Co-Founder PINTU, & Founder LAKON Indonesia), Daniel Ngantung (Editor Detik Wolipop), dan Hilmy Faiq (Editor Harian Kompas).

Courtesy of JF3 Talk

Dalam sesi pembuka, Thresia Mareta menegaskan bahwa JF3 didirikan bukan sekadar sebagai platform peragaan busana, melainkan menjadi ruang bagi seluruh elemen industri untuk saling berbagi ilmu dan bertumbuh bersama. Menurutnya, pertumbuhan industri tidak boleh hanya menjadi sebuah gelembung internal yang semu. “Koneksi antar-elemen ekosistem belum benar-benar terjalin dengan baik. Ada media, ada pelakunya, tapi apakah pelaku mengerti media? Apakah medianya benar-benar mengerti pelaku? Jika kita sendiri yang mengklaim bahwa kita bagus dan semakin besar, itu hanya pengakuan sepihak. Pengakuan yang valid harus datang dari pihak lain melalui pemenuhan standar internasional,” ujar Thresia Mareta.

Untuk mendorong pertumbuhan brand lokal secara konkret, JF3 tahun ini menguatkan lima program strategis:

Fashion Village & CODE.STRT: Wadah uji pasar langsung guna memahami perilaku konsumen nyata.

International Collaboration: Kolaborasi dua arah dengan menghadirkan desainer dari Korea Selatan.

Future Fashion Designer: Transformasi kompetisi yang berfokus pada eksekusi pola dan produksi nyata, bukan sekadar konsep di atas kertas.

PINTU Incubator: Program kurasi untuk membawa desainer Indonesia ke Paris Trade Show.

JF3 Model Search: Program regenerasi dan dukungan bagi industri model nasional.

Memasuki sesi diskusi terbuka, Dino Augusto membuka obrolan dengan membahas tentang banyak produk berkualitas tinggi gagal di pasar karena maknanya tidak tersampaikan kepada konsumen. Menanggapi hal tersebut, Hilmy Faiq menjelaskan bahwa di era modern, kenyamanan emosional konsumen saat membeli sebuah produk kini jauh lebih penting dibandingkan kenyamanan fisik semata. Konsumen ingin merasa menjadi pribadi yang lebih baik melalui produk yang mereka konsumsi. “Produk yang bagus dan narasi yang kuat harus berjalan beriringan; keduanya merupakan aspek ‘pencahayaan’ bagi jenama. Kualitas fisik saja tidak cukup jika di balik produksinya terdapat praktik negatif seperti perusakan lingkungan atau eksploitasi pekerja. Nilai kemanusiaan, lingkungan, dan kesetaraan adalah narasi yang dicari pasar saat ini,” tutur Hilmi.

Courtesy of JF3 Talk

Menyetujui pandangan tersebut, Daniel Ngantung menambahkan bahwa kunci utama dari narasi sebuah brand terletak pada konsistensi. Jika sebuah pesan tidak ditarik sebagai benang merah pada koleksi-koleksi berikutnya, hal itu akan dinilai publik sebagai sekadar greenwashing atau alat promosi sesaat. Thresia Mareta turut memperkuat argumen ini dengan menyatakan bahwa identitas yang dipegang teguh secara jujur akan tecermin secara otomatis pada setiap titik eksekusi produk, mulai dari pemilihan bahan hingga kain, tanpa perlu dikomunikasikan secara berlebihan.

Terkait dinamika media, Daniel turut membagikan fakta lapangan mengenai pola konsumsi pembaca saat ini. Untuk brand yang baru merintis, audiens cenderung lebih tertarik pada narasi personal tokoh di belakangnya (from zero to hero). Sementara untuk yang sudah lebih mapan, fokus pembaca beralih pada produk itu sendiri. Mengenai aspek viralitas, kali ini Hilmi mengingatkan para pelaku industri untuk berhati-hati dalam memilih brand ambassador. Konsumen berlapis kedua saat ini sangat kritis terhadap sinkronisasi nilai antara figur publik dan produk yang mereka gunakan. Memilih figur yang bermasalah dapat memicu boikot konsumen karena keengganan diasosiasikan dengan figur tersebut.

Dalam sesi tanggapan peserta, muncul beberapa evaluasi penting dari perwakilan media dan akademisi seperti diferensiasi informasi melalui siaran pers dengan sudut pandang yang disesuaikan dengan segmentasi tiap-macap media, kebutuhan ruang diskusi terjadwal melalui ruang pertemuan privat terjadwal antara desainer dan jurnalis sebelum pekan mode berlangsung serta pentingnya aspek Marketing, Image, and Knowledge (MIK) bagi desainer pemula

Menutup sesi diskusi, Daniel dan Hilmi membagikan catatan evaluasi positif dari perjalanan program PINTU di Paris Trade Show beberapa waktu lalu. Tiga brand lokal yang dikirim ke Prancis menunjukkan performa yang sangat kompetitif dan berhasil menarik perhatian pembeli internasional dari berbagai negara, termasuk Italia, Jepang, Korea, dan Belanda. Tentunya, keberhasilan ini membuktikan bahwa presentasi yang kuat, sentuhan budaya lokal yang dikemas modern, serta kolaborasi internasional mampu menempatkan fashion Indonesia sebagai instrumen soft diplomacy yang efektif di panggung global.

Courtesy of JF3 Talk

Di akhir forum, Thresia Mareta memaparkan rangkaian agenda JF3 2026 yang seluruhnya akan dipusatkan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Rangkaian acara dimulai pada 22 Juli mendatang yang dimulai dengan “Gala Dinner Opening” sebagai ruang networking formal antara pelaku mode domestik dan desainer internasional serta 23 – 29 Juli 2026 di mana pelaksanaan fashion show utama selama 7 hari berturut-turut akan berlangsung,

Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan terhadap ekosistem media, JF3 juga resmi mengumumkan pembukaan kembali “Journalist Writing Competition 2026” dengan hadiah utama berupa kesempatan meliput langsung program PINTU di Paris Trade Show mendatang.

Karya yang kuat tetap membutuhkan cerita yang kuat agar bisa dipahami, dipercaya, lalu berkembang. Melalui forum seperti inilah JF3 berkomitmen mempertemukan ide, kritik, dan kolaborasi untuk masa depan industri,” tutup Thresia.

You May Also Like

More From Author