Gerakan Budaya dan Musik dalam Selebrasi Sepuluh Tahun Synchronize Fest

4 min read

“It’s Not Just a Festival, It’s a Movement”. Itulah filosofi dari Synchronize Festfestival multi-genre yang konsisten mengusung budaya lokal dan menampilkan karya-karya terbaik musisi Indonesia. Dalam kata lain, festival ini menjadi ‘nafas segar’ di tengah gempuran karya musisi Barat dan menyampaikan budaya tradisional serta pop culture dalam cara menarik yang dipahami seluruh generasi.

Sejak perhelatan pertamanya di tahun 2015, Synchronize Fest menunjukan komitmennya dalam memberdayakan industri musik lokal. Masih teringat jelas di ingatan The Societies bagaimana sejumlah festival yang didominasi lineup musisi internasional sangat digemari di era tersebut dan Synchronize Fest mendobrak stigma di mana hanya festival musik bernafas Barat saja disukai publik.

Lebih dari sekadar menghadirkan deretan musisi terbaik di tanah air, Synchronize Fest selalu menyuguhkan ragam hal seperti pertunjukan spesial, aksi kolaborasi lintas genre lintas generasi, ajang reuni band dan musisi, hingga memberikan ruang bagi nama-nama baru di industri. Kurasi lintas genre dan lintas dekade inilah yang menjadi perbedaan paling mendasar Synchronize Fest. Di festival ini, Anda dapat melihat sebuah ‘melting pot’ di mana pengemar musik dangdut, campursari, nasyida ria – bahkan grindcore, berkumpul di dalam sebuah perhelatan.

Courtesy of SynchronizeFest 2025

Di tahun kesepuluhnya, hal tersebut dihadirkan Synchronize Fest bersama demajors dan ruangrupa hadir dengan tema
#SalingSilang yang menggambarkan bagaimana musik, seni, dan budaya bisa saling berkelindan satu sama lain. Tema #SalingSilang ditampilkan dengan beberapa aksi kolaborasi – seperti kolaborasi legendaris Elvy Sukaesih bersama Tokyo Ska Paradise Orchestra, Kunto Aji bersama Yogyakarta Hadroh Clan, serta aksi kolaborasi Haddad Alwi & Opick.

Dibuka Jatiwangi Art Factory pada Jum’at (3/10), Synchronize Fest hari pertama menampilkan berbagai lineup menarik seperti White Shoes & the Couples Company (WSATCC) bersama Oele Pattiselanno, Kunto Aji dengan Yogyakarta Hadroh Clan, Whisnu Santika X Dipha Barus dan NDX Aka. Di hari kedua, berbagai kolaborasi spesial juga dihadirkan melalui Jakarta Movin & Rapot Present Putar Kembali: OST. Film Indonesia, Diskoria Orchestra, Musik dari Rangga & Cinta, Guruh Gipsy di samping lineup seperti The Changcuters, JKT48 dan Wali.

Penampilan yang penuh rasa haru juga tampak di hari ketiga melalui tribut kepada dua musisi Indonesia ternama yang sudah berpulang lewat “A Tribute to Gusti Irwan Wibowo” dan “Riffmeister: The Legacy of Ricky Siahaan”. Selain tribut, hari penutup pagelaran Synchronize Fest 2025 ditutup dengan momen spesial reuni antara Elvy Sukaesih dengan Tokyo Ska Paradise Orchestra dan Centil Era yang menampilkan musik pop ‘manis’ dari Duo Maia, T2, Aura Kasih dan Sinta & Jojo.

Courtesy of SynchronizeFest 2025

Bentuk nyata kerja sama antara Synchronize Fest 2025 dengan ruangrupa terwujud melalui penyulapan Hall D2 Gambir Expo menjadi pameran seni rupa. Kurasi ruangrupa menyajikan sejumlah karya yang belum pernah diakses publik Indonesia. Antusiasme pengunjung yang tercermin dari keramaian di berbagai sudut pameran membuktikan bahwa kolaborasi lintas disiplin ini sukses menjadi sorotan utama festival.

Sebagai wujud komitmen Synchronize Fest terhadap ksejahteraan lingkungan, kampanye tahunan Green Movement Synchronize Fest kembali dilanjutkan pada tahun 2025 dengan dua inisiatif utama. Pertama, melalui kolaborasi bersama Stuffo dan WWF, berhasil dikumpulkan 291 kg limbah plastik yang disumbangkan publik untuk dijadikan sebuah karya instalasi seni di area festival. Kedua, festival kembali menyediakan water refill station yang ikonik, berfungsi sebagai pusat isi ulang air mineral bagi tumbler pribadi penonton, guna mendukung pengurangan sampah botol plastik sekali pakai.

Selain seni dan sustainability,  festival ini menunjukkan inovasi dan kepedulian terhadap aksesibilitas penonton. Hal ini dibuktikan melalui adaptasi format acara yang fleksibel (seperti format radio dan TV saat pandemi), penyediaan fasilitas transportasi umum, seperti program bus “Nebeng Gratis”, yang dirancang untuk memudahkan dan mendorong partisipasi publik secara lebih bertanggung jawab serta akses untuk kaum difabel di area festival.

Courtesy of SynchronizeFest 2025

Dengan pendekatan kuratorial yang menolak algoritma demi substansi, serta komitmennya yang teruji selama sepuluh tahun sebagai platform pemberdayaan musisi lokal dan gerakan lingkungan, Synchronize Fest sukses mengukuhkan diri sebagai pergerakan budaya yang mendefinisikan ulang makna sebuah festival musik di Indonesia. Festival ini adalah bukti nyata bahwa semangat sinkronisasi mampu menciptakan dampak budaya yang berkelanjutan di tanah air.

You May Also Like

More From Author