Thresia Mareta Raih Penghargaan Knight of the Ordre des Arts et des Lettres

4 min read

Pendiri LAKON Indonesia, Thresia Mareta, sukses menorehkan prestasi yang membanggakan bagi Indonesia. Kementerian Kebudayaan Negara Prancis menganugerahkan penghargaan Knight of the Ordre des Arts et des Lettres kepada Thresia Mareta atas dedikasinya dalam melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Indonesia serta membawa fashion Indonesia ke kancah internasional. Penyerahan penghargaan ini diberikan dalam sebuah seremoni resmi yang hangat dan bersahabat dengan dihadiri oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, serta sejumlah pejabat tinggi, tokoh industri, dan undangan terhormat lainnya.

Didirikan oleh Menteri Kebudayaan Prancis pada tanggal 2 Mei 1957, Ordre des Arts et des Lettres merupakan penghargaan prestisius dari Prancis bagi individu yang berjasa dalam pengembangan seni, budaya, dan sastra secara global. Melalui penghargaan ini, Thresia Mareta bersanding dengan sejumlah tokoh dunia seperti Pablo Picasso, Umberto Eco, Issey Miyake, Meryl Streep, David Bowie serta figur ternama tanah air yang terdiri atas Nyoman Nuarta, Garin Nugroho dan Guruh Soekarno Putra.

Courtesy of LAKON Indonesia

Dedikasi Thresia di bidang budaya bermula saat Ia mendirikan LAKON Indonesia pada tahun 2018 silam. LAKON Indonesia lahir dari keprihatinan beliau terhadap kurangnya apresiasi kepada para pengrajin beserta teknik tradisional dan warisan budaya. Melalui ekosistem mode tersebut, Thresia berupaya membangun sebuah lingkup yang komprehensif untuk mendukung para perajin, desainer dan pelaku usaha kecil agar tetap relevan dan berkembang di era industri modern.

“Dengan berkembangnya industri fashion, kita harus bertanya pada diri sendiri: bagaimana kita memastikan bahwa keahlian pengrajin kita dalam membuat kerajinan tangan seperti batik, tenun, bordir, dan lainnya tidak hanya dilestarikan tetapi juga tetap relevan, mendapatkan pengakuan global, dan menciptakan peluang ekonomi bagi para pengrajin? Perjuangan ini merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kerja keras, kesabaran, dan dedikasi tak henti”, demikian tutur Thresia Mareta dalam sambutannya.

Courtesy of LAKON Indonesia

Selain mendirikan LAKON Indonesia, kepedulian beliau terhadap industri mode tanah air tampak melalui perannya sebagai advisor JF3 Fashion Festival yang diprakarsai oleh Summarecon. JF3 sukses menjadi salah satu fashion platform paling konsisten di Indonesia selama 21 tahun terakhir, yang memberikan peluang bagi para kreator fashion dan pengrajin lokal. Dengan pengalaman dan keahliannya, Thresia melakukan sejumlah inovasi dan terobosan – salah satunya adalah inisiatif untuk mendirikan PINTU Incubator yang berperan sebagai jembatan kreatif Indonesia – Prancis.

PINTU Incubator merupakan program bilateral yang didirikan bersama antara LAKON Indonesia, JF3, dan Kedutaan Besar Prancis melalui IFI yang bertujuan untuk membantu para kreator muda dari kedua negara dalam membangun bisnis yang menekankan pengembangan pasar, ketahanan bisnis, dan keberlanjutan jangka panjang.

Hasil nyata dari program ini telah terlihat, para partisipan incubator telah berhasil menjual produk mereka ke buyer internasional dan butik-butik di berbagai benua, menggandakan pendapatan mereka serta mendapatkan berbagai kesempatan berharga, seperti mengikuti Paris Trade Show, hingga untuk pertama kalinya bisa menempuh pendidikan di École Duperré, salah satu sekolah fesyen paling bergengsi di Paris.

Ekosistem Lakon Indonesia, JF3 Fashion Festival, dan PINTU Incubator kini menjadi yang terkuat di bidangnya, dengan aset dan fasilitas yang sangat komprehensif. Keberhasilan ini menandai sejarah baru dalam industri fashion Indonesia dan melalui kerjasama dengan kedutaan Prancis menjadi menjadi satu-satunya ekosistem di Indonesia yang secara resmi terhubung dengan industri fashion Prancis.

Courtesy of LAKON Indonesia

Selain penyerahan penghargaan Knight of the Ordre des Arts et des Lettres, Thresia meluncurkan buku berjudul “Ode to Indonesian Culture” di kesempatan yang sama. Melalui proses pengerjaan selama dua tahun, buku ini mengangkat 15 sosok inspiratif Indonesia yang diceritakan dari perspektif Lakon Indonesia.

“Harapan saya, generasi mendatang tidak hanya memahami warisan budaya mereka, tetapi juga bangga. Dunia akan selalu berubah, tetapi semoga mereka tidak pernah melupakan kekuatan dan keindahan akar budaya mereka. Semoga buku ini menjadi warisan yang hidup, sebuah penghormatan bagi kebijaksanaan dan kontribusi mereka yang membentuk narasi budaya kita hari ini, sekaligus memberikan inspirasi bagi masa depan untuk terus menghargai dan merayakan identitas kita “, ungkap Thresia Mareta.

Melalui penghargaan Knight of the Ordre des Arts et des Lettres dan peluncuran buku “Ode to Indonesian Culture”, Thresia Mareta dan LAKON Indonesia berharap dapat menginspirasi semua pihak untuk berperan aktif melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Indonesia agar tetap relevan, diakui global, dan menciptakan peluang ekonomi bagi pengrajin.

You May Also Like

More From Author