Berbicara mengenai Teater Koma, nama Norbertus Riantiarno, atau yang akrab dikenal dengan N. Riantiarno, menjadi salah satu tokoh penting yang tidak pernah luput dari percakapan. Pendiri Teater yang didirikan pada tahun 1977 tersebut berperan besar dalam memajukan dunia teater tanah air. Sejumlah karya besarnya seperti “Rumah Kertas” , “Opera Ular Putih” dan “Republik Bagong” menjadi bukti dari kualitas terbaik pementasan teater yang meninggalkan kesan di hati para penontonnya.
Meski telah berpulang pada 20 Januari 2023 silam, karya N. Riantiarno masih memberi nafas kehidupan bagi panggung teater tanah air. Salah satu karya tersebut bertajuk “Matahari Papua”. Lakon ke-230 produksi Teater Koma ini merupakan naskah terakhir yang ditulis oleh sang maestro. Pertunjukan ini sendiri akan diselenggarakan dari 7 Juni hingga 9 Juni mendatang di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.

Cerita “Matahari Papua sendiri berpusat pada seorang pemuda bernama Biwar yang tinggal bersama sang Ibu, Yakomina di wilayah Kamoro, Papua. Sebuah kejadian tak terduga datang ketika Biwar menolong Nadiva dari Tiga Biawak, anak buah Naga yang meneror tanah kelahirannya, yang ternyata memiliki peran besar di dalam kisah masa lalu keluarganya.
“Selama 47 tahun, Teater Koma telah konsisten menghibur dan memperkaya wawasan para penikmat seni dengan beragam kisah yang sarat pesan moral dan nilai-nilai positif. “Matahari Papua” ini memiliki makna yang sangat mendalam, karena merupakan karya terakhir dari Bapak N. Riantiarno, sang pendiri Teater Koma. Selama hidupnya, beliau telah memberikan kontribusi luar biasa bagi dunia teater Indonesia dengan cerita-cerita yang menyentuh hati dan penuh makna. Karya terakhir ini adalah bentuk dedikasi dan cinta beliau yang tulus terhadap seni pertunjukan. Semoga warisan beliau terus menginspirasi dan menyemangati generasi penerus dalam merayakan dan menghargai kekayaan seni budaya kita,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Menampilkan Tuti Hartati, Lutfi Ardiansyah, Joind Bayuwinanda, Netta Kusumah Dewi, Daisy Lantang, Bayu Dharmawan Saleh, Sir Ilham Jambak dan Sri Qadariatin, pertunjukan “Matahari Papua” menjadi pertunjukan yang berkesan bagi Teater Koma karena diselenggarakan berdekatan dengan hari lahir N. Riantiarno, yaitu 6 Juni. Selain itu, pertunjukan ini menjadi pertunjukan pertama Teater Koma kembali di Graha Bhakti Budaya pasca pandemi COVID-19.
“Kembalinya kami tampil di Graha Bhakti Budaya tentunya menjadi sebuah kesan tersendiri karena tempat ini memiliki sejarah dan menjadi saksi bagi beragam pertunjukan dari Teater Koma. Kini kami kembali meski tanpa kehadiran Mas Nano. Tapi sosok sang guru, bapak, saudara, sahabat itu akan selalu menyertai di hati kami. Wejangan dan ajarannya senantiasa hadir di tiap gerak kami. Karena kami tidak akan pernah berhenti bergerak, tidak pernah titik, selalu Koma,” ujar Ratna Riantiarno yang juga berperan sebagai produser.

Rangga Riantiarno selaku sutradara pertunjukan MATAHARI PAPUA menuturkan bahwa naskah pertunjukan “Matahari Papua” pertama kali ditulis pada tahun 2014 sebagai naskah pendek untuk pertunjukan bertajuk Cahaya dari Papua di Galeri Indonesia Kaya. “Ketika pandemi merebak dan mengharuskan kita semua berkegiatan di rumah, Pak Nano tetap produktif menulis berbagai karya, salah satunya adalah mengembangkan naskah Cahaya dari Papua dan diberi judul baru “Matahari Papua”. Naskah panjang terakhir ini menjadi bukti nyata dedikasi dan semangat tak kenal lelah Pak Nano dalam berkarya, bahkan di masa-masa sulit. Karyanya terus menyinari dunia teater Indonesia dan meninggalkan warisan yang akan selalu dikenang.” ujarnya.
“Matahari Papua” disutradarai Rangga Riantiarno dan Asisten Sutradara Nino Bukir, didukung oleh tata artistik dan multimedia Deden Jalaludin Bulqini, tata musik Fero A. Stefanus, tata rias Subarkah Hadisarjana, tata busana Rima Ananda Omar, tata rambut Sena Sukarya, tata cahaya Deray Setyadi, tata gerak Ratna Ully, tata suara Bona, pandu vokal Ajeng Destrian, rancang grafis Saut Irianto Manik, pimpinan produksi Rasapta Candrika dibantu oleh pengarah teknik Tinton Prianggoro serta manajer panggung Sari Madjid Prianggoro dan produser Ratna Riantiarno.
Tiket dapat diperoleh melalui situs www.teaterkoma.org.
