Musik merupakan bahasa universal. Hal ini memiliki makna bahwa musik merupakan hal yang dapat dipahami dan dinikmati oleh berbagai kalangan, budaya, serta kepercayaan apapun – tanpa batas. Hal inilah yang terlihat jelas pada perhelatan Synchronize Festival 2024 yang diadakan pada tanggal 4,5,6 Oktober di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat.
Tema “Together Bersama” yang diusung kali ini pun sarat akan makna dan bukan sekadar jargon semata. Gabungan kata Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia tersebut merepresentasikan kesatuan yang luas serta para penampil yang terdiri dari musisi tanah air dan musisi luar/diaspora yang bersatu dalam visi untuk melestarikan musik Indonesia. Bisa dikatakan, tema ini menjadi harapan Synchronize Festival untuk menyatukan segala kalangan di tengah kondisi yang tidak menentu melalui pagelaran musik.

Seperti musik yang menjadi pemersatu tanpa batas, Synchronize Festival menghadirkan para musisi lintas agama yang menghadirkan toleransi antar ras dan agama. Hal ini terlihat dari nama Hadad Alwi feat. Sulis Cinta Rasul di koridor lagu religi Islami, bersandingan harmonis dengan kehadiran Sidney Mohede dan pertunjukan spesial Barry Likumahuwa: Synchronize Sunday Service di koridor lagu rohani Kristen.
Selain agama dan ras, penampil lintas bangsa juga menjadi tanda pemersatu dan bentuk apresiasi musik Indonesia di berbagai penjuru dunia. Kolaborasi maestro gitar tanah air, Tohpati dengan penyanyi ternama Malaysia, Shela Majid dan beragam atau penampilan deretan musisi diaspora seperti pionir grindcore asal Semarang yang berdomisili di Amerika Serikat, AK//47 menjadi bukti akan luasnya daya cakup musik Indonesia dan pengaruhnya di kancah musik global.

Apresiasi terhadap musik tanah air pun ditunjukkan kepada para ikon musik yang sudah berpulang melalui beragam performance dengan konsep yang menarik. Di hari pertama, sosok Nike Ardilla ‘hadir kembali” melalui format metahuman dan berkolaborasi dengan Danilla, Tantri “Kotak”, Bonita, Putri Ariani, dan Fanny Soegi di atas panggung. Penampilan tribut juga diperuntukkan untuk seniman legenda betawi, Benyamin Sueb melalui “Brang Breng Brong: Benyamin Bikin Ketributan” dan mendiang Harry Roesly dengan penampilan opera spesial berjudul “Rock Opera Ken Arok: Harry Roesli”.
Mengangkat tema kebersamaan, Synchronize festival turut menghadirkan penampilan lintas generasi. Penampilan “Lagu Anak Masa ke Masa” yang dimeriahkan Chicha Koeswoyo, Enno Lerian, Joshua Suherman, Tasya Kamila, Saskia & Geofanny, Tina Toon, Melisa “Abang Tukang Baso”, Dhea Ananda & Leony VH, Ria Enes & Suzan dan Titiek Puspa menghadirkan nostalgia sekaligus memperkenalkan kembali lagu anak kepada generasi anak saat ini.

Berbicara musik tanah air rasanya tidak lengkap apabila belum menghadirkan musik dangdut yang digemari jutaan umat. Penampilan spesial yang hadir di hari kedua Synchronize Festival adalah “60 tahun Elvy Sukaesih Berkarya” berhasil menggoyang Dynamic Stage dengan alunan lagu ikonik sang diva seperti “Laila Bonita” dan “Sekuntum Mawar Merah”. Kolaborasi antara mantan pasangan Aldi Taher dan Dewi Perssik juga membuat heboh dengan beragam jargon dan cover lagu milik The Cranberries, “Zombie” yang sempat membuat heboh dunia hiburan pada era awal 2000-an.
Momen reuni yang hangat pun terjadi di Synchronize Festival 2024 di antara para musisi. Setelah 11 tahun vakum, Bondan Prakoso dan Fade2Black hadir kembali di atas panggung dan berhasil memeriahkan suasana di hari pertama. Reuni meriah juga terjadi melalui kolaborasi R.E.M: Rien Djamain, Ermy Kullit, Margie Segers “Api Asmara” serta kembalinya Tria “The Changcuters” di hari kedua dan reuni Slank dan kawan-kawan dalam “Potlot Jam” di hari ketiga.

Sebagai penutup, Synchronize Festival mengajak penonton untuk menghadirkan dua aksi meriah. Penonton bernostalgia dengan pertunjukan spesial INBOX SCTV Live At Synchronize Fest di Dynamic Stage dan Island
Vibes Reggae Party berhasil menutup festival musik yang diadakan selama tiga ahri ini dengan meriah di District Stage.
Kehadiran Synchronize Festival 2024 yang sukses mengusung tema “Together Bersama” dengan menghadirkan penampil lintas genre, generasi, bangsa dan keyakinan, membuat kita kembali mengingat esensi utama festival musik – yaitu musik sebagai bahasa universal dan festival musik sebagai tempat di mana semua kalangan dapat diterima. Konsisten menghadirkan pertunjukkan musik dengan kreatifitas tinggi, Synchronize Festival sukses melestarikan musik tanah air dan memperkenalkannya dengan cara yang unik kepada generasi baru.
