Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan Warnai ARTJOG 2024

3 min read

Perhelatan festival, pameran dan pasar seni rupa kontemporer tahunan, ARTJOG, kembali diselenggarakan pada 28 Juni hingga 1 September mendatang di Jogja National Museum. Mengangkat tema ‘Motif: Ramalan’ , ARTJOG konsisten menjadi ruang untuk pertumbuhan dan perkembangan beragam bentuk seni di tanah air. Komitmen untuk menjadi tempat pertemuan antara seni (untuk hal ini seni pertunjukkan) dengan masyarakat di tahun ini diwujudkan melalui program •ARTJOG x Bakti Budaya Djarum Foundation.

“Melalui program performa•ARTJOG x Bakti Budaya Djarum Foundation yang dihadirkan tahun ini, membuka kesempatan bagi para pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan para seniman, memahami proses kreatif, dan mendengar langsung cerita di balik karya-karya mereka. Rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi dan memperkaya wawasan budaya penonton, sehingga dapat mendorong kreativitas para seniman muda dan memperkuat ekosistem seni di Indonesia,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Courtesy of ARTJOG 2024

Selaku CEO dan Founder ARTJOG, Heri Pemad menyatakkan apresiasinya terhadap dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation kepada ARTJOG selama ini. “Tentu kerja sama ini sangat membahagiakan di tengah kondisi kemandirian sekaligus keterbatasan dari teman-teman seniman dan penyelenggara event seni dan budaya. Dukungan ini juga menguatkan landasan kita; bahwa memajukan seni dan budaya adalah tanggung jawab bersama,” ungkapnya.

Kerjasama antara ARTJOG dan Bakti Budaya Djarum Foundation tahun ini juga hadir dalam presentasi karya instalasi mix-media hasil kolaborasi antara Nicholas Saputra, Happy Salma, (alm.) Gunawan Maryanto, dan Iwan Yusuf yang berjudul “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan”. Karya ini merupakan alih wahana dari buku tafsir dan terjemahan Serat Centhini yang dilakukan oleh Elizabeth D. Inandiak dan diterbitkan pada tahun 2002. Selain itu, Nicholas Saputra, Happy Salma, Iwan Yusuf, Elizabeth D. Inandiak, dan Didik Nini Thowok turut hadir dalam program “Meet the Artist” untuk mengungkap proses kreatif di balik karya Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan serta mengkaji ulang makna Serat Centhini pada 22 Agustus lalu.

Courtesy of ARTJOG 2024

“Melalui karya ini, kita diajak untuk memaknai isi dari percakapan antara Amongraga dan Tambangraras sebagaimana sebuah suluk dipresentasikan kembali di era kontemporer hari ini melalui karya Elizabeth D. Inandiak, seperti halnya memaknai sebuah ‘ramalan’ dari masa lalu. Semoga kegiatan ini bisa menambah wawasan para pengunjung,” ujar Nicholas Saputra di acara tersebut.

Berkolaborasi dengan Iwan Yusuf untuk visualisasi, pertunjukkan “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan” yang merupakan hasil interpretasi Didik Nini Thowok atas novel yang berjudul sama. Bekerja sama dengan Elizabeth D. Inandiak (narator), Anon Suneko (komposer), dan Sarah Diorita (performer), pertunjukkan ini memadukan wayang golek dan lantunan tembang dari beberapa pupuh di dalam kisah tersebut dalam bentuk seni tari yang ekspresif.  Pertunjukkan ini mengajak penonton melihat kembali kisah Amongraga dan Tambangraras di sepanjang malam-malam itu secara interpretatif dan kontemplatif.

Courtesy of ARTJOG 2024

Kolaborasi ARTJOG dan Bakti Budaya Djarum Foundation dalam menghadirkan beragam bentuk kesenian di ARTJOG 2024 bertujuan memberikan pengalaman baru bagi para pengunjung dengan harapan meniadakan jarak antara seni dengan masyarakat. Informasi mengenai agenda program dan jadwal pertunjukan lainnya dapat diakses melalui situs resmi www.artjog.id.

You May Also Like

More From Author