Fashion dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk komunikasi non-verbal yang paling langsung. Apa yang kita kenakan bisa menceritakan kisah tentang siapa diri kita sesungguhnya, asal-usul kita, status sosial – bahkan suasana hati. Bahkan, setiap potongan garmen turut membawa narasi historis dan budaya serta emosi yang diciptakan oleh garis, warna, dan siluet di dalamnya.
Bagi seorang desainer, setiap koleksi adalah sebuah babak cerita. Desainer menggunakan garmen sebagai kanvas untuk menyampaikan visi, tema, maupun karakter tertentu. Setiap bahan, warna, siluet, dan detail tertentu dipilih dengan cermat untuk membangun sebuah narasi utuh. Hal inilah yang tampak pada show LAKON INDONESIA bertema “URUB” dan Victor Clavelly dengan tajuk “Les Fragments” pada perhelatan acara JF3 Fashion Festival 2025 yang diadakan di Re-Crafted Hall, Summarecon Mall Serpong pada Rabu (30/7) lalu.

Meski menampilkan koleksi dengan tema yang berbeda, The Societies melihat benang merah yang menghubungkan kedua koleksi ini – penciptaan. Dibuka oleh Victor Clavelly dengan “Les Fragments”, warna monokrom mendominasi layar panggung serta koleksi dengan suguhan estetika seni visual bertema futuristik dari Image Director, Héloïse Bouchot. Menyuguhkan narasi spekulatif tentang dunia pasca-apokaliptik, di mana makhluk hibrida bernama “Fragments” mencoba merangkai ulang identitas mereka melalui busana, berbagai perpaduan seperti teknik 3D printing, reconstructed denim, aksen spike pada celana, rok & aksesori, kacamata futuristik serta face paint yang mengingatkan kami akan berbagai film bertema sci-fi atau post-apocalypse seperti “Mad Max: Fury Road” dan “Ex Machina”.
Penciptaan narasi kuat serta tampilan detail yang rumit memperlihatkan kapasitas Victor selaku desainer fashion yang pernah berkolaborasi dengan fashion designer asal Amerika Serikat, Rick Owens serta Katy Perry, Beyoncé dan FKA Twigs dan juga Héloïse yang pernah menjadi tim artisanal rumah mode ternama asal Prancis, Maison Margiela. Terinspirasi dari armor, eksoskeleton, serta relik suci, koleksi ini menciptakan siluet yang dramatis, modular, dan imajinatif yang dapat terlihat dari aksen berbeda yang ditampilkan sebuah item ketika bersanding dengan karya seni visual Héloïse bertema bumi dan galaksi yang berganti-ganti di latar belakang panggung.

Layaknya warna monokrom yang berganti dengan palet warna earthy di layar panggung, show LAKON Indonesia dengan tema “URUB” seolah-olah menghadirkan rebirth setelah apocalypse. Dibuka dengan footage hujan dengan sepasang kaki yang melangkah di atas tanah basah berwarna cokelat, koleksi ini menghadirkan narasi di mana pengorbanan adalah bagian dari penciptaan pesan mendalam tentang altruisme—sebuah kodrat yang bersemayam di setiap gen makhluk hidup dengan tetap mengusung tema planet bumi.
Terinspirasi dari filosofi api sebagai simbol pembersihan dan transformasi, “URUB” menandai fase baru LAKON yang tak lagi terikat pada siklus konvensional produksi fashion, namun tetap menjunjung tinggi prinsip keberlanjutan dan nilai kultural Indonesia. Layering bahan yang didominasi oleh kain flanel, tartan, wastra, tweeds dan pleats menjadi analogi dari pengorbanan – seperti gunung yang meletus untuk menciptakan kehidupan baru atau ledakan supernova yang membentuk elemen-elemen di alam semesta. Koleksi ini semakin terasa vibrant dengan latar belakang visual panggung yang menampilkan wajah para tamu fashion show yang beragam.
Kombinasi unsur modern dan tradisional pada rok satin dengan batik dan motif army menciptakan refleksi terhadap kehidupan di era modern yang serba cepat dan tumpang tindih serta mendefinisikan dengan presisi pepatah Jawa yang menjadi inspirasi koleksi ini – “Urip iku urub” yang berarti “Hidup itu menyala”. Ditutup dengan lagu “Thank U” dari Alannis Morisette, koleksi “URUB” merupakan penghormatan terhadap pengorbanan yang tertuang dalam lirik lagu berupa rasa terima kasih terhadap beragam emosi negatif seperti “terror” (teror), “disillusionment” (hilangnya ilusi), “frailty” (kerapuhan) dan “consequence” (konsekuensi) yang berujung pada sebuah keindahan – layaknya alam semesta – atau dalam konteks ini berupa fashion yang berhasil terlahir kembali dalam narasi koleksi ini yang tercipta dari narasi sebelumnya (post-apocalypse) di koleksi “Les Fragments” persembahan Victor Clavelly.

Koleksi “URUB” terlahir dari proses daur ulang dan kelahiran kembali. Dengan menyusun ulang arsip-arsip selama lima tahun terakhir, koleksi ini merefleksikan semangat yang lebih bebas, tak terbatas, dan jujur.
Kolaborasi URUB dan Les Fragments di JF3 2025 menciptakan dialog kreatif yang menggugah, di mana kearifan lokal bertemu dengan pendekatan digital. Perpaduan ini membuktikan bahwa mode adalah medium yang sempurna untuk menjembatani masa lalu dan masa depan – atau dalam kata lain menghadirkan regenerasi dan kemajuan bagi dunia fashion di masa depan.
