Raden Prisya: The Fulfilled Life

4 min read

“Seorang individu yang memiliki wellbeing yang baik cenderung memiliki mental health yang baik juga”. Kalimat tersebut yang terucap dari Raden Prisya terhadap koneksi antara kesehatan mental dan wellbeing. Sebagai seorang praktisi mindfulness, holistic health coach, CEO dari Hiraku Sushi serta content creator yang juga menjalani keseharian sebagai istri dan ibu dari dua orang putra, ketulusan dan disiplin menjadi kunci utama Prisya meraih kesuksesan dan menjalani hidup yang mindful.

Berbicara ketulusan, perjalanan Prisya di dalam bidang mindfulness juga berangkat dari hal yang sama. Berawal dari dunia seni, perjalanan Prisya di bidang ini bermula sejak Ia mendapat kesempatan menjadi seorang guru di TK tempat sang anak bersekolah. Rutinitasnya berbagi cerita saat menjalani profesi tersebut di platform media sosial ternyata menarik lebih banyak audience yang mendorong dirinya untuk membuka sebuah support group untuk sharing session. “Awalnya, saya membuka kelas di tahun 2020 untuk komunitas. Kebetulan suami resign di tahun yang sama dan membantu saya sehingga kelas meluas ke ranah corporate,” terang Prisya.

Courtesy of Mind Revive Indonesia

Niat baik Prisya untuk mendalami bidang mindfulness pun bersambut dengan kehadiran dan dukungan dari para mentor profesional. “Bermula dari menjalaninya seorang diri, saya tidak pernah berhenti belajar dan akhirnya dipertemukan dengan sejumlah mentor profesional seperti seorang couple therapist, ibu Rani Anggraini Dewi dan Mas Reza Gunawan (alm). Bahkan, sertifikasi yang saya tengah jalani saat ini berawal dari rekomendasi Mas Reza sendiri,” kenangnya. 

Dengan kerja keras dan kegigihannya, Prisya mendirikan Mind Revive Indonesia sebagai sarana fasilitas wellbeing yang menyediakan berbagai macam modul dan kelas mindfulness. “Mind Revive Indonesia berawal dari permintaan untuk membuat sesi kelompok untuk sharing session. Aku dan suami sepakat kalau harus ada nama yang menaungi fasilitas ini,” ujarnya. 

Courtesy of Mind Revive Indonesia

Berawal dari sebuah kelas bernama Mom Recharge Session (MRS) yang dikhususkan kepada para Ibu, namun karena para Bapak turut berpartisipasi dan merasakan manfaat dari sesi tersebut membuat kelas berganti nama menjadi Mind Revive Session (MRS) yang menjadi cikal bakal nama Mind Revive Indonesia. “Fokus Mind Revive Indonesia sendiri masih berpusat di private coaching yang memfasilitasi berbagai layanan seperti emotional healing, inner relationship coaching yang membantu klien dalam proses healing dan mengenal dirinya sendiri,” jelas Prisya.

Memberikan layanan terbaik dalam bidang mindfulness, Mind Revive Indonesia memiliki tiga modul besar yang disesuaikan dengan kebutuhan klien. “Saya memiliki tiga jenis modul yang disesuaikan dengan client needs. Yang pertama adalah Understanding Yourself yang merupakan dasar-dasar mengenal diri sendiri dan lebih berpusat kepada teori memahami. Kedua adalah Expressive Journaling, yaitu proses journaling secara ekspresif sebagai sarana melepas emosi sebagai refleksi perawatan diri dan yang ketiga adalah Mind Revive Session sendiri yang berguna untuk merubah kebiasaan lama dengan latihan praktis berbasis teori,” jelas Prisya. 

Courtesy of Mind Revive Indonesia

Dengan fasilitas yang disediakan, Prisya berharap dapat membantu individu yang ingin menuju wellness maupun above wellness – sejalan dengan fungsi utama dari mindfulness. “Above wellness berarti ketika seseorang merasa cukup baik, namun perlu di emphasize dan digali lagi potensinya supaya dia bisa mencapai kebahagiaan ketenangan.” jelasnya. “Kami juga membantu proses healing yang biasanya dijalani bersama dengan terapi dari psikolog dan psikiater. Mindfulness sangat diperlukan mengingat kondisi dunia yang berjalan dengan cepat yang cenderung menimbulkan stres,” tambahnya.

Menjadi praktisi mindfulness tentunya menghadirkan sejumlah cerita dan pelajaran berharga bagi Prisya. Salah satunya adalah saat Ia mengadakan sesi untuk sebuah perusahaan e-commerce. “Di sesi Gratitude Exercise, ada seorang Bapak yang bertanya mengapa Ia tidak dapat bersyukur. Saya bertanya balik kepada beliau dan terungkap bahwa lima tahun lalu Ia mengalami kedukaan di mana sang anak wafat dan beliau belum mencerna trauma dari peristiwa itu,” kisahnya. “Selain menyebabkan perubahan perilaku, kepercayaan serta kepribadian, peristiwa traumatis mengakibatkan duka (grief) yang apabila ditahan, akan menagih kita untuk menyelesaikannya suatu saat nanti,” tambah sang praktisi.

Courtesy of Rici Linde (DigitalActive Photography)

Menangani beragam klien dengan berbagai problem, tidak membuat Prisya lupa akan wellbeing dirinya sendiri. Seiring bertambahnya jam terbang, Ia mampu mengatasi berbagai hal seperti rasa lelah setelah mengadakan sesi. “Kuncinya adalah berempati kepada klien, tetapi memasrahkan hasil akhir kepada Tuhan. Empati dan khawatir adalah dua hal yang berbeda,” ungkapnya. Selain menjaga kesehatan mental, Prisya juga tidak lupa memperhatikan kesehatan fisik seperti menjaga pola makan, bergerak aktif dan beristirahat yang cukup.

Meski menjalani berbagai profesi dan kegiatan, Prisya memiliki kunci utama dalam mencapai hidup bahagia yang selalu diterapkannya, yaitu taat terhadap aturan. “Aturan yang kita anut dalam hidup berfungsi untuk memudahkan hidup sebagai landasan utama. Manfaat dari aturan tersebut lah yang menyederhanakan perjalanan hidup kita,” pungkasnya. “Dengan menaati peraturan tersebut, hidup akan terasa lebih mudah dan ringan,” tutup sang praktisi.

 

You May Also Like

More From Author