Ketika The Societies mendapat kesempatan untuk menyaksikan pementasan “DAG DIG DUG” pada Jum’at (24/1) di Teater Salihara, kami turut merasa menjadi saksi dari sebuah momen penting di dunia teater tanah air. Pementasan yang menampilkan naskah karya seniman Putu Wijaya ini kembali dihadirkan setelah penayangan pertamanya pada 48 tahun silam. Dipersembahkan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation dan bekerja sama dengan AP Production, pementasan ini sukses digelar untuk publik selama dua hari dari 25 – 26 Januari.
Menampilkan dua pemain orisinilnya, yaitu aktor dan aktris kawakan, Slamet Rahardjo dan Niniek L. Karim, lakon “DAG DIG DUG” kali ini dipentaskan oleh Teater Populer dan disutradari oleh Slamet Rahardjo yang juga merupakan pendiri kelompok tersebut. Meski kami belum pernah menyaksikan pementasan orisinilnya, “DAG DIG DUG” berhasil menerjemahkan kata tersebut secara harafiah dengan menghadirkan satu topik utama yang related dengan kisah lakon – kecemasan.

Chaerul Umam. Nama tersebut menjadi topik pembuka cerita yang menimbulkan kecemasan pada dua tokoh utama – sepasang suami istri lanjut usia yang membuka indekos bagi para mahasiswa sebagai pelipur lara absennya buah hati di rumah tangga mereka. Chaerul yang dikenal sebagai sosok baik hati tiba-tiba dikabarkan meninggal dalam keadaan yang tak wajar. Persoalan mulai muncul ketika datang dua utusan yang membawa uang santunan namun ternyata jumlahnya tidak sama dengan yang tertera pada tanda terima.
Kecurigaan, rasa marah, emosi, penderitaan, mencuat lewat pertikaian dan keributan-keributan kecil di antara mereka pasangan suami istri tersebut dan orang di sekitarnya, salah satunya tokoh pembantu rumah tangga yang selalu menjadi pihak yang ditindas oleh majikannya, yaitu Cokro. Kehadiran Cokro sendiri menjadi cermin dari kebaikan dan ketulusan yang hadir di tengah kehidupan – namun sering terlupakan karena konflik dan ego semata.

“DAG DIG DUG” merupakan naskah drama karya Putu Wijaya yang tak lekang oleh zaman. Slamet Rahardjo hanya membuat sejumlah perubahan kecil dari naskah asli, namun tetap menampilkan roh cerita utamanya. Slamet Rahardjo sendiri merupakan aktor orisinil dari lakon ini. Ia tampil bersama Niniek L. Karim membawakan peran utama pasangan lanjut usia disaat keduanya masih berusia 28 tahun. Bukan kebetulan bahwa keduanya pernah terlibat pada lakon yang sama, juga yang dimainkan oleh Teater Populer, pada 1977 di Taman Ismail Marzuki, dan disutradarai juga oleh sang aktor.
“Bagi saya teater adalah rumah dan pementasan ini membawa saya kembali ke rumah saya, teater. Usia adalah anugerah dan saya tidak ingin usia menjadi kendala, karena sebagai pemain teater, saya menghafal 47 halaman. ‘DAG DIG DUG’ menampilkan berbagai situasi yang membuat penikmatnya merenung, tertawa getir, menghadapi semacam kekacauan yang terjadi dalam diri manusia dan sekitarnya,” tutur Slamet Rahardjo.

Selain menampilkan aktor dan aktris kawakan, Slamet Rahardjo dan Niniek L. Karim, pementasan ini juga menghadirkan aktor Reza Rahadian, Donny Damara, Jose Rizal Manua, Kiki Narendra, dan Onkar Sadawira. Pentas “DAG DIG DUG” ini diproduseri oleh Paquita Wijaya dan Samuel Wattimena, dengan co-produser Taba Sanchabakhtiar.
Sesuai judulnya, “DAG DIG DUG” menghadirkan gambaran individu yang disibukkan dengan kekhawatiran sehingga terkadang melupakan kebaikan yang ada di sekitar mereka. Selain menjadi bukti ketajaman kemampuan berlakon dari Slamet Rahardjo dan Niniek L. Karim yang tak lekang oleh waktu, kisah ini juga menjadi bukti bahwa di zaman apapun, kekhawatiran hidup yang membuat jantung berdegup juga akan selalu ada dari masa ke masa sehingga membuat pementasan ini selalu relevan di setiap era dan generasi.
