Danjyo Hiyoji – Nama brand fashion tersebut sangat familiar di telinga berbagai generasi. Di tengah berbagai brand milik desainer tanah air yang datang silih berganti, Danjyo Hiyoji tetap bertahan tanpa perlu melakukan perubahan citra dan DNA desain. Tentunya, hal ini menjadi istimewa karena tidak banyak brand yang mampu bertahan mempertahankan idealismenya di tengah gempuran tren.
Melihat kesuksesan tersebut, rasanya perbincangan kami selama satu jam setengah di headquarters Danjyo Hiyoji di Tangerang Selatan dengan Dana Maulana yang merupakan Founder dan Michael Simiadi sebagai Creative Director, cukup untuk mendapatkan esensi serta kunci dari kepopuleran Danjyo Hiyoji di berbagai era, yaitu generasi muda yang selalu datang silih berganti dan haus akan berbagai tren terbaru.
“Passion for Fashion”. Rasanya kalimat tersebut terdengar sangat klise dan umum, namun, hal itulah yang membuat Dana memutuskan untuk mulai mendirikan Danjyo Hiyoji. “Kecintaan saya terhadap fashion sudah bermula sejak SMP. Meski sempat mengambil jurusan teknik yang berbeda dengan passion, ketertarikan tersebut kembali dan akhirnya saya memutuskan untuk mendirikan brand,” kenang Dana. Layaknya kehidupan, dewi fortuna yang belum berpihak pada sang desainer membuat Ia memutar otak untuk membuat sebuah inovasi baru – bagi Dana, inovasi tersebut adalah sebuah fashion pieces sederhana berupa varsity jacket yang lekat dengan generasi muda.
“Saya memutuskan untuk membuat varsity jacket yang ditujukkan bagi para siswa dan ternyata kesuksesan mulai datang dari hal tersebut. Dapat dikatakan, hal inilah yang menjadi cikal bakal dari lahirnya brand Danjyo Hiyoji,” ungkap Dana. Berbicara awal berdirinya brand fashion asal Jakarta tersebut, sang founder yang pernah mengenyam pendidikan S2 fashion di London, Inggris ini menceritakan cikal bakal tersebut sudah ada sejak dirinya mulai mengikuti kontes di sebuah ajang Fashion Week, di mana Ia berhasil meraih gelar “The Most Innovative Brand” dengan menampilkan koleksi bertema “Club Kids”.
“Setelah berhasil menjuarai kontes tersebut, barulah ide untuk mendirikan Danjyo Hiyoji tercetus karena pada dasarnya, saya senang mendesain baju,” kenang Dana. Mengusung nama unik bertema Jepang, makna Danjyo Hiyoji sendiri menjadi salah satu wujud dari kesuksesan brand ini di setiap era. “Danjyo sendiri bermakna unisex, sedangkan Hiyoji memiliki arti “a little bit crazy hype”. Singkat kata, brand ini menggambarkan kita yang selalu berjiwa muda dan relate dengan semua generasi,” imbuhnya.
Memahami pasar dan targetnya merupakan satu hal penting bagi desainer pakaian dalam memasarkan koleksinya, tetapi seiring percakapan, The Societies semakin mengerti jika selain menjadi seorang desainer dan founder, Dana Maulana merupakan seorang pengusaha cermat yang dapat merancang beragam strategi dalam mempertahankan Danjyo Hiyoji sebagai brand fashion papan atas tanah air. “Saya harus pandai membaca pasar sedang mengarah kemana, seperti apakah kita akan bermain dengan volume, slow fashion atau yang lainnya. Kecermatan dalam hal ini juga yang membuat Danjyo Hiyoji tidak terdampak saat pandemi COVID-19,” ungkap Dana.

Perkembangan zaman dan tren juga lah yang mendorong Dana untuk menggandeng Michael Simiadi untuk menangani kreatifitas di Danjyo Hiyoji. DNA brand yang berfokus kepada generasi muda dan chemistry keduanya di dalam bekerja. “Kenapa anak muda dan kenapa saya memilih Michael, jawabannya sederhana. Anak muda adalah pencipta tren dan Danjyo Hiyoji lekat dengan generasi muda. Michael sudah lama bekerja dengan saya dan memiliki taste yang bagus. Hal tersebut sesuai dengan nilai dari Danjyo Hiyoji,” ungkap Dana.
Jika Dana mengagumi Michael karena kreatifitas tanpa batas yang dimilikinya, Sang Creative Director merasa beruntung bahwa pengalamannya bekerja di Danjyo Hiyoji menjadi pengalaman pertamanya berkarir di dunia fashion tanah air. “Pengalaman pertama saya bekerja di fashion adalah di Danjyo Hiyoji. I feel very fortunate for this. Sebagai mentor, Dana memberi kepercayaan dan kesempatan bagi saya untuk berkembang melalui keterlibatan di sejumlah proyek besar,” tutur Michael. Tentunya, dukungan tersebut sangat berpengaruh bagi Creative Director seperti dirinya yang berhasil membawa nafas baru bagi desain Danjyo Hiyoji.
Masuknya Michael ke dalam tim Danjyo Hiyoji, diakui Dana membawa banyak perubahan positif dan berhasil membuat brand tetap relevan dengan zaman sekarang. “Kehadiran Michael memberi energi baru untuk tim kami karena sebagai anak muda, dia dapat memberi masukan soal tren terbaru,” ujar Dana yang mengagumi semangat dan visi sang Creative Director. Kekaguman juga dirasakan Michael terhadap Dana yang selalu konsisten dalam membawa visinya untuk memajukan Danjyo Hiyoji. “Dana selalu berusaha untuk memajukan brand dan menjaga tim tetap bersinergi dengan apik. Dan satu hal yang selalu saya ingat adalah beliau selalu mengingatkan untuk memperlakukan semua orang dengan baik dan hormat,” tambahnya.

Selain memperlakukan kolega kerja dengan baik, kebaikan lain yang dilakukan oleh Dana Maulana dan tim adalah berpartisipasi untuk mengurangi fashion waste. Menurut Dana, Danjyo Hiyoji sudah menerapkan prinsip slow fashion sejak dulu. “Meski brand kami memiliki DNA muda yang identik dengan prinsip YOLO, baju yang kami produksi sangat versatile dan dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” terang Dana. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya pelanggan yang datang ke fashion show mengenakan koleksi lama atau yang mengenakan baju Danjyo Hiyoji milik orang tua atau saudaranya.
Kepedulian brand ini terhadap berbagai hal di membuktikan jika brand ini lebih dari fashion semata, melainkan sebuah komunitas. “Danjyo Hiyoji merupakan sebuah komunitas yang lebih dari sekadar fashion dan sekitarnya. Ini adalah sebuah tempat dimana setiap individu dapat menjadi dirinya sendiri, melakukan kebaikan terhadap sekitar dan menjadi wadah setiap generasi dapat berkumpul dan mengekspresikan dirinya,” ucap Dana. Di samping komunitas, kolaborasi juga kerap dilakukan Danjyo Hiyoji dalam berpartisipasi memajukan dunia fashion tanah air – seperti saat BRI UMKM Export yang diadakan di ICE BSD yang The Societies datangi beberapa waktu lalu.
Melalui percakapan dengan Dana Maulana dan Michael Simiadi, The Societies tidak hanya belajar mengenai industri fashion semata, melainkan kepiawaian dalam berorganisasi, kontribusi terhadap masyarakat dan juga bagaimana melestarikan karya antar generasi. Dengan tetap mengusung DNA awal yang membuat Danjyo Hiyoji tetap bertahan di setiap masa, Dana dan tim berhasil menghadirkan bukti bahwa konsistensi dan relevansi menjadi kunci dari kesuksesan sebuah brand maupun bisnis.
