Kuliner Peranakan menjadi salah satu bagian penting dalam khazanah dunia kuliner tanah air. Masakan Peranakan sendiri merupakan jenis masakan yang lahir dari perpaduan dua kebudayaan utama: Tionghoa (khususnya Tionghoa perantauan, atau Baba-Nyonya) dengan Melayu atau lokal Nusantara.
Istilah “Peranakan” sendiri merujuk pada keturunan imigran Tionghoa yang lahir dan berasimilasi dengan budaya setempat di wilayah Asia Tenggara, khususnya di Selat Malaka (Malaysia, Singapura) dan Indonesia. Penuh dengan tradisi, salah satu restoran peranakan yang selalu mengangkat nilai sejarah di setiap hidangannya adalah Meradelima dan tentunya figur penting di baliknya, Lily Admodirdjo.

Sebagai pionir gastronomi lokal, Lily Admodirdjo dikenal bukan hanya sebagai restaurateur, melainkan penjaga memori rasa yang menciptakan hidangan berkonteks sejarah, filosofis, dan identitas budaya. Saat ini, kepemimpinan Meradelima dilanjutkan oleh generasi kedua, dengan Faizal Admodirdjo sebagai Chief Executive Officer dan Carmelita Febiola M. Admodirdjo sebagai Chairman of the Board.
Setelah sukses membawa cita rasa Peranakan ke ranah fine dining, Meradelima kini memperkenalkan Lemari Jajanan Pasar Peranakan Meradelima. Peluncuran ini adalah bagian dari misi jangka panjang untuk melestarikan tradisi agar tak terlupakan. Melalui beragam varian kue basah seperti Klepon, Talam, Kue Ku, dan Putri Mandi—yang disajikan dengan resep keluarga berpadu sentuhan modern—tersimpan cerita lintas generasi yang ingin terus diwariskan.

“Jika tradisi ini tidak terus diperkenalkan, lama-kelamaan akan hilang. Kami ingin jajanan pasar tetap hadir dan dikenal. Bukan hanya sebagai memori masa lalu, tapi sebagai bagian dari masa depan,” ujar Carmelita Febiola M. Admodirdjo. Seiring peluncuran Lemari Jajanan Pasar Peranakan, Meradelima turut memperkenalkan konsep Afternoon High Tea ala Peranakan, menyajikan jajanan pasar dengan format lebih tertata namun tetap otentik cita rasanya.
Seluruh kudapan tradisional ini disuguhkan dalam tableware khas Peranakan, dihadirkan setara dengan camilan modern dalam sebuah pengalaman bersantap yang elegan namun tetap bersahaja. Diproduksi tanpa pewarna buatan dan mengandalkan bahan alami seperti bunga telang, buah naga, serta daun suji dengan standar higienitas tinggi, penganan ini tidak hanya memanjakan penikmat kuliner, tetapi juga para pecinta budaya yang menghargai keaslian dan nilai.

Bertepatan dengan Hari Kebaya Nasional, peluncuran Lemari Jajanan Pasar Peranakan Meradelima dimeriahkan dengan “Peranakan Soirée”, sebuah perayaan budaya lintas generasi yang berkolaborasi dengan Ghea Fashion Studio. Sebagai salah satu rumah mode tertua di Indonesia yang kini berusia 45 tahun, Ghea menampilkan koleksi kebaya kontemporer bersama second line-nya, Ghea Resort by Amanda & Janna, keduanya terinspirasi oleh kekayaan budaya Peranakan.
Tidak hanya melestarikan budaya peranakan melalui kuliner, Lemari Jajanan Pasar Peranakan Meradelima dirancang sebagai titik temu generasi baru— khususnya bagi mereka yang lebih akrab dengan cita rasa global—dengan kekayaan kuliner Nusantara yang disajikan secara kontemporer.

“Sebagai generasi penerus, tanggung jawab kami adalah memastikan tradisi tidak berhenti di generasi sebelumnya,” ujar Faizal Admodirdjo, CEO Meradelima. “Kami ingin membangun ekositem di mana kuliner Nusantara terus bertumbuh, beradaptasi, dan dihargai lintas generasi”.
