Bidang fashion dan budaya merupakan dua hal yang lekat dengan Indonesia. Hal ini terlihat dari ragam budaya yang berasal dari berbagai daerah tertuang apik di dalam karya busana yang juga menjadi citra diri bangsa seperti wastra. Ironisnya, dengan segala kekayaan bangsa tersebut, hanya segelintir orang yang peduli akan keberlangsungan ekosistem dunia fashion dan budaya tanah air.
Salah satu tokoh yang giat memperjuangkan keberlangsungan ekosistem fashion serta melestarikan budaya Indonesia adalah Thresia Mareta – pendiri dari LAKON Indonesia sekaligus advisor JF3 Fashion Festival. Thresia sendiri merupakan figur penting di balik keberlangsungan masa depan fashion dan budaya tanah air yang diwujudkannya melalui pelestarian keterampilan pengrajin di ekosistem LAKON Indonesia, menghubungkan kreator muda Indonesia dengan ekosistem fesyen Prancis melalui PINTU Incubator serta kerja keras dalam mengangkat tradisi lokal melalui inovasi berkelanjutan yang diapresiasi dengan penghargaan kehormatan Knight of the Ordre des Arts et des Lettres dari Kementerian Kebudayaan Prancis.
[IMG_1.jpg]
Rasa Cinta pada Fashion dan Budaya Sejak Dini
Melihat rasa cinta dan kepedulian Thresia terhadap budaya dan fashion, mengingatkan The Societies akan quotes Founder Apple, Steve Jobs, yang berbunyi “The only way to do great work is to love what you do” – atau ‘Satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan hebat adalah mencintai apa yang Anda lakukan’. Passion tersebut semakin kental dan terasa ketika kami berjumpa Thresia di LAKON Store, Kelapa Gading yang merepresentasikan kecintaan beliau terhadap kedua bidang tersebut melalui visual merchandising, pola baju serta keragaman brand lokal yang ditampilkan di dalamnya.
“Ketertarikan saya kepada budaya bermula sejak kanak-kanak. Ayah dan ibu selalu menanamkan nilai nasionalisme dan nenek selalu mengenakan kebaya dan kain batik di kesehariannya,” kenangnya. Hal ini juga semakin diperkuat dengan tradisi liburan keluarga yang spontan menjelajahi berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa Tengah, Bali, hingga Sumatra di mana setiap perjalanan selalu diwarnai pencarian kain batik sebagai oleh-oleh, serta paparan terhadap tarian, makanan, dan pertunjukan seni lokal.
Meski sempat terbentur dengan zaman konvensional di mana pekerjaan di bidang mode masih dipandang sebelah mata yang tentunya, mengharuskan Thresia mengambil jalur lain berupa arsitektur, passionnya terhadap dunia mode tidak pernah padam dan akhirnya membuka jalan bagi dirinya untuk mendirikan ekosistem fashion bekelanjutan ternama di tanah air – LAKON Indonesia di masa depan.
Lakon Indonesia: Sebuah Jawaban atas Kegelisahan
Didirikan pada tahun 2018, LAKON Indonesia terlahir dari keprihatinan Bu Tresna akan pelestarian budaya, terutama batik dan pengrajinnya. Setelah berinteraksi langsung dengan desainer dan pengrajin, ia mengamati berbagai masalah: berkurangnya jumlah pengrajin batik, serta program pembinaan yang kerap terhenti di tengah jalan, menghasilkan dampak yang tidak maksimal dan menumbuhkan ketidakpercayaan di kalangan pengrajin – atau akrab disebut ‘pelakon’ yang merupakan asal inspirasi dari nama LAKON Indonesia.
“Melihat hal tersebut, saya kemudian berpikir pasti ada sesuatu yang masih perlu dilakukan selain apa yang sudah ada sekarang,” jelasnya. Thresia menyadari betul bahwa inti pelestarian budaya – terutama yang berkaitan dengan pengrajin, adalah dengan mempertahankan keahlian tangan mereka yang bermakna pengrajin harus bisa dipertahankan dan pentingnya regenerasi, mengingat banyak yang kerajinan berhenti di generasi ketiga.
Dari hasil riset serta pengamatannya, Ia menyimpulkan bahwa kunci pelestarian adalah program yang berkelanjutan atau sustain. “Lakon Indonesia didirikan bukan hanya sebagai merek – tetapi sebagai ekosistem. Toko Lakon berfungsi sebagai motor penggerak finansial yang memastikan usaha pelestarian budaya ini dapat terus berjalan dan tidak hanya bergantung pada sponsor atau sumbangan yang sifatnya tidak konsisten,” terang Thresia.

Tujuan utama Lakon Indonesia adalah melestarikan budaya yang tidak hanya terbatas pada batik atau tenun, tetapi juga seluruh pelaku di baliknya – termasuk para pengrajin dan generasi penerusnya. Thresia sadar akan fakta di mana pengrajin seringkali terjebak dalam sistem yang butuh perbaikan besar, yang di luar kapasitasnya untuk diubah sepenuhnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Lakon Indonesia menciptakan ekosistem yang lebih kecil dan ideal di mana para pengrajin dapat hidup dan berkembang. Dengan mengadopsi mereka ke dalam sistem ini, Lakon berharap dapat mengubah pola pikir pengrajin, menumbuhkan rasa bangga atas hasil karya mereka, dan mendorong mereka untuk membantu sesama pengrajin atau bahkan saudara mereka. Diharapkan, dampak dari ekosistem ini tidak hanya berpengaruh kepada peningkatan taraf hidup – tetapi juga perubahan mentalitas yang akan memengaruhi generasi berikutnya.
Dalam mengkurasi produk untuk LAKON Store, Thresia menekankan akan pentingnya kualitas produk. “Kalau produk kita bagus, produk tersebut dapat dipakai selama bertahun-tahun lamanya. Tentunya, hal ini termasuk ke dalam kategori tren slow fashion,” ujarnya. Sang founder juga menyoroti isu di mana banyak produk lokal yang memiliki cerita bagus atau mengklaim produknya ramah lingkungan berakhir percuma karena kualitas yang buruk dan non-fungsional.
Bagi Thresia, masalah ini berasal dari rantai produksi mode lokal, terutama pada CMT (Cut, Make, Trim) atau subkontraktor jahit. Banyaknya CMT skala kecil memiliki kualitas finishing di bawah standar yang membutuhkan campur tangan pihak pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan kejuruan yang berperan dalam perbaikan kualitas produk mode Indonesia.
“RE-CRAFTED: A NEW VISION”

Terkait visi tersebut, perbaikan untuk kemajuan dunia fashion tanah air terlihat nyata dalam tema acara JF3 tahun ini – “RE-CRAFTED: A NEW VISION”. Bukan sekadar melahirkan karya baru, tema ini menekankan pentingnya setiap pelaku industri untuk menjalankan profesinya dengan lebih baik demi kemajuan. “Intin dari tema ini adalah perubahan. Saya percaya bahwa setiap perbaikan yang dilakukan oleh individu dalam industrinya akan membawa dampak besar secara keseluruhan,” jelas Thresia mengenai tema tersebut.
Alih-alih hanya berfokus pada sustainability dan daur ulang karya, tema “RE-CRAFTED: A NEW VISION” turut menekankan peran ‘pembaruan/recrafted’ karya desainer lokal agar lebih relevan di lingkup internasional dan memperbarui rasa cinta rakyat Indonesia terhadap budaya. Dalam mewujudkan hal ini, Thresia menghadapi dua tantangan besar baik di mancanegara dan dalam negeri di mana Ia harus memastikan karya fashion Indonesia dapat dipakai dan cocok dengan konsumen di seluruh dunia serta menciptakan pakaian tradisional yang terintegrasi dan relevan dengan kegiatan sehari-hari.
“Dewasa ini, saya merasa cukup challenging untuk mengajak desainer mengolah wastra tradisional – padahal ini adalah potensi besar untuk menembus pasar global. Desain dan styling-nya hanya cocok untuk pasar Indonesia, sehingga sulit diterima di luar negeri. Hal ini tentunya terkait dengan kurangnya minat masyarakat mengenakan pakaian tradisional – salah satunya terletak pada ketidakmampuan desainer untuk menjadikan baju tradisional relevan dengan kegiatan sehari-hari,” tutur Thresia yang berharap hal tersebut dapat teratasi dengan diangkatnya tema recrafted pada perhelatan JF3 kali ini.
Makna Sejati “Sustainability” dan Tanggung Jawab Produsen
Berbicara mengenai pembaruan, Thresia memandang sustainability sebagai tanggung jawab individu terhadap setiap hal yang dilakukan, termasuk kontribusi pada bumi. “Bukan cuma sekadar beli baju yang berlabel green. Intinya adalah bagaimana kita memberi kontribusi terhadap bumi ini supaya tetap terjaga kelestariannya” tegasnya. Dalam konteks fashion, sustainability bagi konsumen berarti mencari baju berkualitas yang bisa dipakai lama, terlepas dari label “sustainable” yang tertera. Sedangkan dari sisi produsen, berarti mendesain produk yang dapat dipakai dalam jangka waktu lama oleh konsumen.
Sebagai pelaku industri fashion, Thresia menerapkan prinsip tersebut di LAKON dengan meminimalkan limbah di setiap langkah produksi, mulai dari mengurangi potongan kain hingga menghemat benang dan listrik. Baginya, Ini adalah bentuk tanggung jawab mereka terhadap keberlanjutan. Bu Tresna menekankan bahwa tanggung jawab ini memiliki banyak opsi yang tidak harus terpaku pada satu hal di mana setiap langkah kecil sangat berdampak.
Melestarikan Budaya di Generasi Muda dan Pandangan Industri Fashion Tanah Air
Berbicara budaya, tentunya salah satu tantangan yang dihadapi adalah kalangan muda. Minimnya pengetahuan mereka akan wastra membuat Thresia terpacu untuk semakin mengedukasi masyarakat muda akan keragaman budaya Indonesia. “Pengenalan budaya ke kalangan muda sangatlah penting mengingat mereka akan menjadi penerus bangsa. Terkait hal ini, saya selalu mencari individu yang benar-benar memahami dan memiliki pemikiran sejalan dengan filosofi Lakon untuk mengenalkan kembali budaya sehingga histori, esensi dan pesan yang disampaikan dapat tersampaikan dengan baik,” terangnya.
Kegemaran generasi muda akan partisipasi di berbagai ajang fashion internasional turut menjadi salah satu concern bagi Thresia. Bagi dirinya, sah-sah saja untuk berpartisipasi dalam ajang tersebut – namum semua tujuan harus jelas dan terukur secara bisnis. “Intinya adalah, efektivitas harus dipertimbangkan karena sangat disayangkan jika kita membayar mahal untuk show di luar negeri – namun audiens dan medianya berasal dari Indonesia, bukan negara tempat acara dihelat,” tuturnya. Menurutnya, partisipasi di panggung internasional harus berdampak pada penjualan dan perluasan pasar, serta kesiapan produksi untuk menampung permintaan besar karena popularitas tanpa kesiapan bisnis hanya akan menjadi euforia sesaat.
Peran Penting Para Pelakon dan Masa Depan Fashion Indonesia

Sebagai penghubung industri fashion Indonesia dan mancanegara, Thresia selalu menekankan pentingnya penjualan dan perluasan pasar agar karya desainer Indonesia dapat diterima di ranah internasional. “Filosofinya sederhana: profesi apa pun, termasuk desainer yang bergerak di bidang budaya, harus memiliki sisi bisnis agar bisa bertahan. Jika tujuannya hanya ‘tembakan’ satu kali tanpa keberlanjutan bisnis, itu hanya akan merugikan sang desainer,” imbuhnya.
Pelestarian budaya yang lantang digaungkan oleh LAKON Indonesia tidak hanya terbatas sekadar karya atau teknik, namun juga termasuk peningkatan taraf hidup dan perubahan mentalitas yang akan memengaruhi generasi berikutnya. Tentunya, semua ini selaras dengan visi LAKON di mana budaya dilestarikan melalui sebuah ekosistem yang ideal.
“Untuk membangun masa depan fashion Indonesia yang lebih maju, seluruh pelaku/pelakon di dunia fashion harus terlibat aktif – mulai dari desainer, jurnalis, fashion stylist hingga model,” ucapnya. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, Thresia berencana untuk mengadakan sederet inisiasi seperti workshop jurnalis dan forum diskusi kecil untuk menambah wawasan serta pemahaman mendalam tentang fashion dan budaya.
Membahas fashion dan budaya bersama Thresia Mareta membuat The Societies melihat satu sisi yang sering tidak dipandang ketika membicarakan topik tersebut, yaitu ekosistem. Terlepas dari seberapa cemerlangnya sebuah karya desainer, apabila tidak didukung oleh sebuah ekosistem yang kuat, akan menjadi sia-sia dan tergerus oleh masa.
Di akhir sesi wawancara, Thresia menyimpulkan pentingnya eksekusi nyata dari setiap klaim dan cerita di balik sebuah karya. “Tanpa eksekusi nyata, karya anak bangsa akan menjadi sia-sia. Bahkan, di tengah zaman serba modern ini, hasil lah yang akan berbicara lebih lantang di banding konten atau popularitas semu. Kerja nyata inilah yang wajib diwujudkan seluruh ‘pelakon’ dunia fashion tanah air agar budaya tetap terjaga kelestariannya dan mampu dicintai juga oleh masyarakat internasional,” pungkasnya.
